Miris, Warga Nelayan Matras Terdampak Aktivitas Penambangan, Justru Tak Tersentuh CSR KIP

oleh

FKBNews, BANGKA — Di tengah maraknya penambangan timah oleh sejumlah Kapal Isap Produksi (KIP) di perairan laut Matras, kondisi warga nelayan Matras justru kian memprihatinkan.

Dengan hasil tangkapan yang kian menurun akibat dampak dari maraknya aktivitas KIP di perairan Matras, warga nelayan Matras justru kurang mendapat perhatian dari KIP yang merupakan pelaku penambangan di daerah mereka.

Hal itu diungkapkan Kepala Lingkungan Matras, Anggi Maisya saat dikonfirmasi terkait Corperate Social Responsibility (CSR) KIP yang beroperasi di perairan Matras, Kamis (22/9/22).
“Sangat miris bang daerah yg terdampak paling parah tapi timbal balik nya sangat minim,” ungkap Anggi.

“Kami mau ngeluh gak tau ke siapa, suara kami juga mungkin tidak di dengarkan,” lirihnya.

Masih dikatakan Anggi Maisya, dirinya merasa heran daerahnya yang paling terdampak tapi kompensasi hanya 100 rupiah.
“Ku juga heran daerah yg paling terdampak Matras tapi kompensasi cuma 100 rupiah dengan panitia satu orang,” sebutnya.

BACA JUGA :  Dilantik Molen sebagai Ketua IPSM, Suara Bergetar dan Mata Berkaca-kaca, Sri Suwanti Berikan Sambutan

Menurutnya, 100 rupiah yang didapat dari KIP untuk warganya justru membuatnya menjadi bingung untuk membagikannya.
“Yang kami ketahui hanya kompensasi yang dikasih ke Matras cuma 100 rupiah itu pun tidak semua KIP karena ketika penyaluran nya uang nya palingan satu juta lebih jadi kami tidak bagi ke warga, kami masukan ke kas lingkungan sebab kalau di bagi ke warga kami bingung baginya berapa,” jelasnya.

Disinggung soal jumlah KIP yang beroperasi di perairan Matras. Dikatakan Kaling Matras jika KIP yang melakukan aktivitas pertambangan di perairan Matras sebanyak 16 Unit.

“Ada 16 unit KIP, 7 Unit Mitra PT Timah sisanya mitra Pemda,” sebutnya.

Dikatakannya lagi, dirinya justru heran, sebab orang yang bukan wilayah Matras yang banyak menerima hasilnya.
“Yang saya heran nya juga malahan orang yg bukan wilayah Matras yg banyak terima hasil nya bang baik dari kepanitiaan nya maupun kompensasinya,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Kejuaraan Pencak Silat "Molen Cup" Resmi Ditutup, Ini Para Juaranya

Oleh karenanya, Kaling Matras ini berharap kepada Pelaku Penambangan dari KIP ini agar lebih mengutamakan wilayah Matras baik dari kompensasinya maupun dari penyaluran CSR-nya.
“Harapannya Matras harus lebih di utamakan baik dari kompensasinya dan csr-nya bahkan pengelolaan kepantianya harus dari Matras. Karena Matras yang sangat terimbas karena pertambangan ini,” tandasnya.

“Paling terpenting kepengurusan kepanitiaannya bang karena kalau Matras yg mengatur mungkin Matras pasti lebih di utamakan kalau Matras sudah terpenuhi baru mementingkan juga daerah lainya yang di sekitaran Matras,” sambungnya.

Diketahui sebelumnya, perairan laut Matras saat ini telah menjadi kawasan penambangan timah lantaran menyimpan potensi cadangan timah yang diperkirakan mencapai hingga jutaan ton banyaknya. Sehingga menjadi daya tarik bagi 16 Kapal Isap Produksi (KIP) baik mitra PT Timah maupun Mitra Pemda serta ratusan Ponton Isap Produksi (PIP) dari berbagai jenis untuk melakukan penambangan timah di daerah tersebut. Namun sayangnya pelaksanaan kompensasi dan CSR nya justru hanya segelintir masyarakat nelayan Matras yang menikmatinya.

BACA JUGA :  Bupati Riza di Anugerahi Gelar Kebangsawanan "Mas Manggala" Oleh Kesultanan Kutai Kartanegara

Sementara berdasarkan Undang-Undang nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas (UUPT) pasal 1 ayat 3, dijelaskan bahwa CSR adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas masyarakat dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Meski setiap PT mengemban tanggung jawab sosial dan lingkungan, namun yang dibebankan kewajiban hukum untuk menjalankan CSR adalah PT yang kegiatan usahanya di bidang dan/ atau berkaitan dengan sumber daya alam berdasarakan undang-undang.
(Rom)