Jangan Telan Mentah Review di Media Sosial

oleh
Eqi Fitri Marehan S. Ikom

Opini

Di era teknologi dan informasi digital seperti saat ini, keberadaan media sosial (mensos) seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Hampir semua orang memiliki akun medsos, baik itu facebook, twitter, instagram, dan sejenisnya. Untuk keperluan tertentu, satu orang bahkan bisa memiliki akun lebih dari satu. Seiring dengan mudahnya mengakses jaringan internet, medsos telah menjelma menjadi gaya hidup, tidak hanya bagi orang kota, tetapi sudah menjangkau masyarakat hingga pelosok desa, bahkan di daerah-daerah yang miskin sinyal sekalipun.

Kemunculan jejaring sosial macam facebook, twitter dan instagram sungguh fenomenal. Varian medsos yang paling merakyat ini makin membuka lebar kanal demokrasi dan kebebasan berpendapat melalui dunia maya. Tanpa disadari, jejaring sosial kini telah mengalami pergeseran fungsional lebih dari sekedar media untuk sosialisasi dan komunikasi, seperti sebagai media bisnis, membentuk komunitas, sosialisasi gagasan, dakwah, hingga untuk propaganda politik. Hal tersebut menjadi wajar mengingat keampuhan medsos yang langsung membidik setiap individu serta mampu menembus batas ruang dan waktu.

Semakin luasnya perkembangan media sosial, membuat para penggunanya memiliki akses yang lebih luas untuk mendapatkan informasi. Salah satunya adalah pendapat orang lain ataupun review seseorang terhadap sesuatu.

Dengan adanya pendapat orang lain, seperti contohnya review terhadap pengalaman berada di suatu tempat, pengalaman setelah mencoba makanan yang unik, ataupun berpendapat tentang sebuah film dan hiburan yang lainnya, dapat memberikan sebuah referensi dan pertimbangan agar kita lebih bisa menghemat pengeluaran.

Tetapi, sayangnya, tidak semua hal yang telah diulas oleh orang lain di media sosial dapat kita telan mentah-mentah. Terkadang, ada juga yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan seseorang, melebih-lebihkan sesuatu yang belum tentu bagus, atau bahkan review asal sekadar ingin merasakan postingannya viral di media sosial.

Dengan adanya postingan viral yang seperti itu, pada akhirnya merugikan pemilik yang tidak bersalah. Bahkan, bagi beberapa orang yang tidak semua review itu dikonsumsi secara mentah-mentah, mengamati secara langsung apa yang sebenarnya terjadi, dan ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.

Dalam sebuah video YouTube yang berasal dari Channel Anak Kuliner yang berjudul SEDIH… GARA-GARA REVIEW JELEK DI TIKTOK JADI SEPI BANGET terlihat sebuah ruko Mie Kocok yang sepi pengunjung.

Karena sebuah video review di platform TikTok yang viral dengan memberikan penilaian jelek 3/10 terhadap ruko Mie Bakso Kocok di Bandung, tempat tersebut berdampak besar hingga sepi pengunjung.

Penjual di sana mengatakan, 20-30 mangkok terjual dalam sehari. Padahal, sebelum adanya review tersebut, mie bakso jualannya lebih banyak terjual. Menurutnya, orang tersebut masih baru berada di sana dan hanya iseng dalam memberikan ulasan asal itu.

Dengan rasa dari makanannya yang enak dan rukonya yang cukup luas, wajar saja jika harga semangkuknya seharga Rp20.000,-

Dapat kita simpulkan, bahwa memberikan pendapat seharusnya dapat bersifat transparan dan bukan hanya sekadar viral di internet, karena tentu saja dapat merugikan seseorang. Tetapi, gunakanlah sosial media secara bijak dan memberikan pendapat dengan yang terjadi sebenar-benarnya. Kita sebagai warganet juga harus bijak untuk menilai, dan jangan mengkonsumsi semuanya secara mentah-mentah dan berpikir kritis.

Penulis : Eqi Fitri Marehan S. Ikom
Anggota Ikatan Pustakawan Indonesia Kabupaten Bangka