Memaknai Idul Adha Dalam Konteks Keikhlasan Berbagi Qurban

oleh
Eqi Fitri Marehan. S. Ikom Anggota Atpusi Kabupaten Bangka.

Opini

Bangka-Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban merupakan hari di mana sebagian besar umat muslim melaksanakan ibadah qurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah bukan karena semata-mata nilai binatang qurbannya. Inti dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketaqwaan bukan hanya daging dan darahnya. “Segala titik darah yang keluar nilainya adalah ibadah, dan jelas di dalam hadits rasulullah bahwasanya binatang yang diqurbankan tersebut akan menjadi tunggangan di hari kiamat nanti,”

Pelaksanaan ibadah kurban dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS yang diberikan wahyu melalui sebuah mimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail. Ibrahim AS tak serta merta melakukannya, tetapi berdialog dengan Ismail untuk meminta pendapat, masukan serta persetujuannya. Ismail pun setuju dengan dasar cintanya pada Allah SWT dan keinginan untuk melakukan perintah-Nya.

Kedua ayah dan anak ini pun kemudian melaksanakan penyembelihan. Namun, Allah menggantikan posisi Ismail dengan seekor kambing yang dalam al-Quran disebutkan adalah seekor kambing gibas berbulu pannjang, tebal, serta keriting. Penggantian ini adalah bentuk balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya di balik sebuah ujian, ada tebusan jalan keluarnya.

BACA JUGA :  DPRD Bangka Gelar Rapat Paripurna Perubahan KUA dan PPAS APBD TA 2022 dan Penyampaian Hasil Reses

Ibadah kurban juga mengajarkan keikhlasan menjalani cobaan. Selain itu, teladan Nabi Ibrahim mengajarkan kita akan sifat sabar serta berserah diri terhadap perintah Allah SWT atau kondisi kehidupan yang harus dijalani. Sama halnya dengan cobaan yang sedang dunia jalani di masa Pandemi Covid-19 serta Virus PMK yang menyerang beberapa hewan ternak

Qurban bagi umat Islam adalah ungkapan terima kasih kepada Allah atas limpahan rezeki dengan cara berbagi makanan berharga kepada mereka yang tidak mampu. Penyembelihan hewan qurban sebenarnya sudah ada sejak pra-Islam. Penyembelihan qurban menurut Islam adalah untuk memadamkan ego dan keinginan pribadi kepada Allah”,

Bila ada hikmah yang bisa kita ambil dari Lebaran Idul Adha yang dikaitkan dalam kehidupan selama pandemi serta Penyakit PMK sekarang adalah pelajaran tentang keikhlasan. Ikhlas mengorbankan harta lewat menyembelih hewan kurban untuk kemudian berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Secara luas, ikhlas dalam kehidupan membawa banyak manfaat besar.

Ikhlas sendiri berarti tulus hati. Menjalani hidup dengan tulus hati dipercaya dapat meringankan langkah dan membuat kita berjalan lebih jauh lagi. Perasaan ikhlas membawa ketenangan dan menghapuskan beban. Perasaan ini juga menjauhkan dari pikiran negatif tentang berbagai hal buruk dalam kehidupan yang harus dijalani.

BACA JUGA :  Juru Parkir Pasar Ini Ditemukan Meninggal di Pinggiran Jalan, Polisi Lakukan Olah TKP

Ikhlas juga mengajarkan untuk lebih menerima dan bersabar. Menerima bahwa dalam hidup, manusia tidak selalu merasa bahagia. Bahwa kesedihan adalah hal yang membuat perasaan bahagia menjadi lebih berarti dan berharga. Dengan ikhlas menjalani cobaan pandemi, seseorang dapat bersabar dan kuat untuk terus berjalan menghadapi kondisi saat ini.

Selain tentang keikhlasan, Idul Adha juga mengajarkan seseorang tentang rasa syukur. Khususnya bersyukur masih bisa berbagi dan membantu orang lain melalui ibadah kurban. Refleksinya dalam kehidupan selama pandemi adalah membuat seseorang bisa merasa bersyukur di tengah kesulitan.

Berbagi rezeki saat Idul Adha bisa menumbuhkan semangat baik bagi sang pemberi atau pun mereka yang menerima rezeki.Berbagi juga punya dampak psikologis pada tubuh. Penelitian membuktikan ada hormon oksitosin yang dikeluarkan saat seseorang berbagi. Hormon ini adalah hormon kebahagiaan yang mengurangi stres. Pemberi bisa merasa bahagia karena dapat membantu orang lain. Sementara, bagi si penerima juga bahagia karena kehidupannya terbantu.

BACA JUGA :  Diskusi Bersama Para Pelaku Ekonomi, Molen Ingin Ciptakan Pangkalpinang Kota Jasa, Dagang dan Industri

Konteks berbagi tidak hanya tertutup pada harta saja, berbagi juga bisa dilakukan dengan berbagai cara lain. Misalnya, dengan mendengarkan curahan hati teman atau kerabat berarti sudah membantu mereka untuk berbagi beban dan membuat perasaan lebih baik. Berbagi dalam konteks ini berarti juga saling menjaga kekuatan mental satu sama lain. Pandemi yang penuh dengan tragedi otomatis akan membuat mental seseorang menjadi turun. Di sinilah dibutuhkan untuk saling menguatkan.

Jika dilihat lebih dalam, Idul Adha mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang dapat diterapkan selama masa pandemi dan menuntun untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Semoga dengan memahami esensi ini, ada pelajaran untuk dapat lebih kuat dan saling menguatkan dalam menjalani situasi saat ini.

Penulis : Eqi Fitri Marehan. S. Ikom
Anggota Atpusi Kabupaten Bangka