Carut Marut Tambang di Perairan Matras hingga Air Antu, Selain SPK, Juga ada yang Pakai Bendera

oleh

FORUMKeadilanbabel.com, AIR ANTU – Aktivitas tambang timah di kawasan Perairan Matras hingga Air Antu Deniang, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, semakin tak terbendung. Terpantau, ratusan ponton jenis rajuk tower dan ponton selam ikut mengeksploitasi sumber daya alam hingga ke bibir pantai.

Meski diklaim masuk wilayah IUP PT. Timah, namun diduga banyak penambang ilegal yang ikut menyusup masuk ke perusahaan mitra PT. Timah yang telah mengantongi Surat Perintah Kerja (SPK).

Salah satu penambang setempat, Akiong mengatakan, setiap orang yang ingin menambang wajib membayar uang bendera sebesar Rp500 ribu ke salah satu perusahaan mitra PT. Timah.

“Bayar bendera Rp500 ribu. Wilayah (Perairan Air Antu-red) ini masuk kafe timah. Kalau nama direktur nya saya juga nggak tahu,” kata Akiong saat dibincangi wartawan di lokasi, Kamis (07/07/2022).

BACA JUGA :  Juru Parkir Pasar Ini Ditemukan Meninggal di Pinggiran Jalan, Polisi Lakukan Olah TKP

Terkait penjualan timah, dia menyebutkan, harga yang dipatok oleh seluruh perusahaan mitra PT. Timah sebesar Rp80.000 per kilogram.

“Harga jual timah disini sama rata Rp80.000 per kg,” ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, pihak PT Timah Tbk telah mengeluarkan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada 4 perusahaan dan 1 koperasi tambang untuk beraktivitas di perairan Matras hingga Aik Antu dengan jumlah ponton isap produksi (PIP) berkisar 10 hingga belasan unit PIP untuk satu SPK. Namun belakangan justru terlihat ratusan unit PIP beroperasi di perairan tersebut.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Pengawas Tambang (Wastam) Laut Perairan Matras dan Rebo PT. Timah, Rusminto belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan singkat.

BACA JUGA :  DPRD Bangka Gelar Rapat Paripurna Perubahan KUA dan PPAS APBD TA 2022 dan Penyampaian Hasil Reses

Hingga berita ini ditayangkan, pihak-pihak terkait lainnya masih dalam upaya konfirmasi. (red)