Arisan Mempererat Tali Kekerabatan dan melestarikan Adat Budaya Serumpun Sebalai

oleh
Foto : Istimewa

Oleh Marwan Al Ja’fari.
Pembelajar di Saung Budaya Bukit Betung

Pada hari Minggu tanggal 22 mei 2022 , Saya menyempatkan waktu untuk ikut acara Arisan Keluarga Besar,
namanya Arisan Beruyot Sungai selan, yang di selenggarakan dirumah salah satu Anggota arisan karna terkena giliran dirumah nya.

Arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya.
Undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Kegiatan ini sudah membudaya di Pulau Bangka, saat ini arisan menjadi kegiatan yang sudah semakin merambah ke berbagai lapisan yang ada di masyarakat.

Kegiatan kumpul-kumpul keluarga dalam kegiatan ariasan ini sangat selaras dengan semboyan Adat dan Budaya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu Serumpun Sebalai.
Mengandung makna : kelurga besar komunitas (serumpun/ seburuyot) berkumpul dan memfungsikan rumah tempat pertemuan sebagai Balai, dari situ terjadi diskusi-diskusi keluarga yang akhirnya mengeluarkan ide – ide serta gagasan dalam satu perjuangan yang sama untuk menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan dan perdamaian, kemudian dilengkapi dengan adat Sepintu Sedulang, karna diakhir pertemuan di akhiri dengan makan- makan bersama.

Sebagian dari kita mungkin sudah tergabung di dalam arisan pada beberapa kelompok yang berbeda, seperti arisan kantor, arisan keluarga besar, arisan teman sekolah atau alumni sekolah, dan lain-lain.

BACA JUGA :  Anggota DPRD Babel Minta Pemerintah Hadir di Tengah Anjloknya Harga TBS Sawit

Memang sebaik nya selain sebagai suatu kegiatan yang tepat untuk mengumpulkan uang , dan bersilaturrahmi serta membangun relasi, diharapkan juga, lewat kegiatan arisan, kita bisa menselaraskan dengan Kebudayaan kita Serumpun Sebalai, sehingga kegiatan arisan tidak hanya sekedar kegiatan kumpul-kumpul uang atau barang, tapi justru bisa dijadikan sebagai sarana yang baik untuk bersosialisasi dan berkontribusi dalam bentuk pemikiran ide dan gagasan, guna membangun kehidupan bermasyarakat.

Saat ini banyak orang yang tertarik untuk mengikuti arisan bukan hanya memerlukan uang atau barang yang dijadikan objek di dalam arisan tersebut, namun hanya karena rindu ingin saling berinteraksi saja dengan setiap anggotanya.

Dalam kegiatan ini
Saya melihat ada keceriaan, kegembiraan, kebersamaan, dan kerinduan antar anggota yang tergabung dalam satu kelompok arisan, sehingga semakin memperkuat tali kekerabatan antar mereka.

Tampak nya dengan kegiatan Arisan keluarga besar ini, terdapat jawaban tentang persoalan yang sering dikatakan orang dari luar Bangka , ada suatu pernyataan bahwa, orang Bangka itu bagus dalam pertemanan tapi lemah dalam kekerabatan, hal mereka ungkapkan karna orang luar sering melihat kejadian orang Bangka, antar sesama seperadik sering bekelai/ bertengkar, dan tidak saling tegur sapa dalam satu keluarga besar.

Tapi dengan adanya budaya Arisan keluarga seperti ini, terlihat sekali kuatnya kekerabatan Orang Bangka. Mereka saling menjalin silaturrahmi dan menjaga hubungan baik antar sesamanya.
Mereka menjadikan arisan sebagai suatu sarana yang baik dalam bersosialisasi.

BACA JUGA :  Agar Masyarakat ikut Ber-qurban, ACT Bangka Buat Program Flash Sale

Saat ini, arisan menjadi suatu sarana untuk bertemu bagi siapa saja yang merasa sulit untuk berkumpul, seperti ajang reuni teman kuliah atau teman sekolah semasa SMA, SMP atau SD.

Selain itu, dewasa ini arisan juga menjadi suatu sarana yang baik dalam rangka memperkenalkan dan melestarikan makanan- makanan lokal yang sudah jarang di temui di masa kini.

Setelah selesai acara mengundi untuk menentukan siapa yang akan dapat arisan priode berikutnya, tuan rumah pun menyajikan makanan khas dan kue – kue asli daerah nya.
saat di sajikan kue tepung gumek, penganan talam, bergo, gulinek, engkak ketan, saya langsung teringat kejadian pengalaman dimasa kecil dahulu.
Dimana saya saat itu sering berjualan kue2 tersebut keliling kampung sungai selan, dengan menyebut nama kue itu satu persatu..

Berbeda dengan orang pangkal pinang dan orang sungailiat saat menjajakan jualan nya.. mereka hanya menyebut .. Kue…kue tanpa menyebut nama- nama kue nya.

Tapi kalau jualan kue di sungai selan, jenis dan macam nama kue nya disebut semua didahului dengan kata depan nya Ayo dan diikuti nama-nama kue nya, kue yg terakhir harus disebut dengan nada yang panjang, misal nya, Ayo kue jongkong, roti ambon, gulinek, tepung gumek, penganan deram, roti gureng,baulu kuci, goreng pisangggg.
Kalau ada sepuluh macam kue yang dijual maka sepuluh macam itu pula yang harus di sebut. Memori lama saya jadi terbuka kembali dan terasa asik sekali, karna waktu yang telah berlalu masih menyimpan rasa rindu yang mendalam.

BACA JUGA :  Pj Gubernur Rumuskan Solusi Terkait Merosotnya Harga TBS Kelapa Sawit

Kembali ke masalah arisan, bagi anggota arisan yang baru masuk menjadi keluarga besar Sungai selan dikarenakan terjalin akibat ikatan perkawinan dengan warga sungai selan , mereka yang belum kenal jadi bertanya- tanya nama- nama kue yang baru mereka liat dan belom pernah mereka rasakan, ternyata melalui kegiatan arisan ini telah terjadi pembauran budaya dan pelestarian tradisi makanan lokal antar anggota keluarga.

Tapi di lain hal, yang harus kita waspadai arisan juga mempunyai sisi negatif, jika tidak kita sikapi dengan baik dan bijak, kegiatan arisan akan menjadi suatu sarana gosip dan ajang dalam memamerkan kekayaan pribadi para anggotanya. Hal ini sering ditemui dan sangat sulit untuk dihindari serta dicegah karena dalam suatu perkumpulan sosial akan selalu ada resiko dalam melakukan hal tersebut.
Oleh karna nya hal hal tersebut harus di sadari, jangan sampai niat yang baik untuk mempererat tali silaturrahmi justru berobah menjadi ajang yang saling iri – mengiri…. waspadalah…

Tapi, semuanya dikembalikan lagi pada tiap anggota didalam kelompok tersebut dan bagaimana pola dalam bergaul yang terjalin di dalamnya.