Kokok-kan Ayam Jantan Melayu Bangka

oleh
Ayam Jantan (ist)

Oleh : Marwan Al Ja’fari.

Belajar dari bunyi Ayam adalah salah satu hewan yg menarik untuk di pelajari makna dari bunyinya.
Kalau bunyi Ayam jantan ia berkokok menunjukkan simbol kejantanan dan keberanian nya. Sementara bunyi Ayam betina dengan suara berkotek, menunjukkan sifat kelembutan dan feminimnya.

Dari bunyi Ayam ini. Ada hal yg menarik jika kita kait-kaitkan dengan sikap orang Bangka yang sering merantau ke daerah luar.

Kita tau bahwa, anak rantau adalah sebutan untuk orang-orang yang jauh dari kampung halaman dalam jangka waktu yang cukup lama.

Ada banyak tujuan orang-orang merantau diantaranya merantau karena harus mencari nafkah, menuntut ilmu, dan tujuan lainnya.

Meski memiliki tujuan yang baik, tak jarang banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya merantau, dengan alasan takut si anak ini akan terbawa arus pergaulan bebas. Padahal yang orang tua takutkan itu belum tentu benar.

Di samping banyaknya kekhawatiran orang tua, sebenarnya menjadi anak rantau itu banyak sekali keuntungannya.
Jauh dari orang tua membuat perantau harus melakukan sesuatu dengan sendiri. Mereka yang masih tinggal dengan orang tua mungkin jarang yang mampu melakukannya.

BACA JUGA :  Menyambut Pulang Kampung Pak Ridwan Djamaluddin dengan Tiga OJO.

Tinggal berjauhan dengan orang tua ada semacam tanggung jawab besar yang harus dijaga dan seorang perantau pasti sangat tahu cara menjaga kepercayaan tersebut, karna kalau sampai pulang tidak membawa hasil, maka itu adalah sebuah kegagalan.

Oleh karna itu, saat sedang di perantauan mereka benar-benar membutuhkan skill yang cukup tinggi untuk bisa masuk ke sebuah lingkungan baru. Karena para perantau akan mengalami perbedaan budaya, adat dan tradisi.

Orang yang tinggal di sebuah lingkungan baru otomatis akan mempertemukannya dengan berbagai macam tantangan, tentunya mereka ingin segera keluar dari tantangan tersebut, sehingga
setiap detik bagi seorang perantau adalah hal yang berharga untuk dilalui.
Hal ini tentunya akan menambah pengalaman baru dan meningkatkan rasa ingin tau terhadap sesuatu yang baru mereka alami.

Yang menarik untuk dikaji dari permasalahan di atas adalah, bagaimana dengan sifat perantau- perantau yang berasal dari Pulau Bangka.
Kalau kita amati, Perantau dari Pulau Bangka rata-rata sifatnya berubah menjadi orang yang kalem/ pendiam saat berada di tanah rantau.
Walaupun waktu di kampung, asli nya dia termasuk orang yang garang (jantan).

BACA JUGA :  Politisi PDI-P Adet Mastur Pastikan Tahun Ini, Persawahan Tiga Desa Di Bangka Selatan Dapat Kucuran Dana 4,9 M

Namun setelah ia kembali pulang dari tanah rantaunya, biasanya setelah selesai kuliah atau tidak bekerja lagi, pulang kekampung halamannya, dia menjadi sosok pribadi yang garang kembali. Sikapnya menjadi kritis, senang berdebat kusir dengan kawan-kawannya, menyalah- nyalahkan orang lain, terkadang berakhir dengan putusnya hubungan silaturrahmi antar teman maupun dengan keluarga.

Fenomena seperti ini menunjukan apakah orang Bangka, kalau merantau keluar ia termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya yang baru,
Atau meraka mengikuti filosofi suara Ayam . Waktu di kandang ia berkokok, tapi saat di luar ia berkotek.
mungkin inilah yang disebut oleh orang tua- orang tua dulu, dengan sebutan, dia itu ‘Jago di Kandang’.

Lalu bagaimana kalau kita bandingkan dengan para perantau dari Pulau Belitung. Para perantau dari pulau Belitung terihat sebaliknya, kita ambil contoh tokoh tokoh Belitung yg merantau seperti Aidit, Yusril dan Ahok. Mereka kelihatan seperti Ayam jantan di negeri luar dan sepertinya tak kenal lelah dalam memperjuangkan nasib dan pembangunan tanah kelahirannya di pulau Belitung.
Mereka selalu berkokok seperti ayam jantan bukan berkotek seperti ayam betina

BACA JUGA :  430 Barang Rampasan, Dimusnahkan Kejari Bangka Barat

Bandingkan dengan tokoh-tokoh dari Pulau Bangka Yang terpilih menjadi Angota DPR RI dan DPD RI… apakah pernah terdengar suara mereka berkokok memperjuangkan nasib dapil mereka di pulau Bangka.. rasa nya belum begitu terdengar ke vokalan kokokkan nya, padahal sebenar nya, mereka itu di gaji rakyat di kampung nya justru untuk berkokok.

Sebagai anggota masyarakat pulau Bangka tentu kita sangat mendambakan sekali, punya tokoh politik sekaliber Fahri Hamzah dari NTB yang tak berhenti berkokok berjuang untuk kemajuan daerahnya.

Tentunya, masih ada sisa waktu bagi perantau-perantau asal pulau Bangka, negri rentang tanah melayu yang sekarang telah terpilih menjadi tokoh politik tingkat nasional untuk berkokok, layak nya ayam jantan dari negri melayu Kepulauan Babel untuk memperdengarkan suara kokokannya di seluruh jagad gedung DPR/MPR RI, tempat mereka bekerja mencari nafkah di daerah rantau sekarang ini….(**)