Koordinator Bidang Pengembangan Produk Lokal Sebut, Data UMKM Per Januari 2022 Capai 64.194.056 UMKM

oleh
Acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Produk Senin (28/3) di hotel Soll Marina Pangkalpinang,

FORUMKeadilanbabel.com, Pangkalpinang- Koordinator Bidang Pengembangan Produk Lokal Kukuh Sri Harjanto mewakili Direktur Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia menyebutkan berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM per Januari 2022, saat ini telah ada 64.194.056 UMKM di Indonesia dan diproyeksikan akan terus bertambah jumlahnya.

Hal itu diungkapkanya dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Produk Senin (28/3) di hotel Soll Marina Pangkalpinang, Bangka Belitung. Yang dilaksanakan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI) bersama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung.

Dan menurutnya UMKM menempati porsi 99,9% dari total populasi usaha aktif, menyerap 96,9% dari total tenaga kerja, dan menyumbang 61,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, UMKM berkontribusi sebesar 15,6% terhadap ekspor dan menghimpun 60% dari total investasi.
“Demikian krusialnya peran UMKM hingga pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus dalam program Percepatan Ekonomi Nasional (PEN) agar UMKM mampu tetap eksis menghadapi pandemi covid-19 dan diharapkan terus berkembang dan maju. Di tahun 2022 ini pun, UMKM menjadi prioritas dalam alokasi angaran PEN untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih cepat,” katanya.

BACA JUGA :  Tokoh Masyarakat Ajak Warga Toboali Terbuka Terhadap Penambangan Legal

Namun, kata Dia memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada 3 hal yang menjadi permasalahan utama UMKM dalam berproduksi yaitu kualitas dan kuantitas produk serta kontinuitas usaha.
“Seringkali terjadi bahwa UMKM tidak mampu memenuhi target jumlah produksi atau kualitas produk yang dihasilkan di bawah standar, serta perjalanan usaha yang tidak berkesinambungan karena kendala modal, omzet rendah, dan kurangnya kepercayaan dari masyarakat sehingga pemasaran menjadi tidak maksimal,” ujarnya.(mislam)