Kasus Sengketa Lahan di Bakit, Bambang Bawa 14 Saksi Bahkan Lebih

Lokal
Upaya klarifikasi sengketa lahan di Desa Bakit yang menghadirkan sejumlah saksi. (Rudy)

Forumkeadilanbabel.com, PARITTIGA, — Kasus sengketa lahan di Desa Bakit Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat yang belakangan mencuat antara Sopian alias Bambang dengan Masyumi alias Sumi belum ada titik temu. Senin, (21/9/2020) dalam upaya klarifikasi Bambang bahkan membawa 14 saksi berikut penjelasan di lapangan.

Para saksi justru berasal dari mantan perangkat desa Bakit bahkan ada yang menyandang status perangkat desa yang masih aktif. Jumlahnya sekitar 14 orang bahkan bisa lebih apabila tidak dibatasi dari kubu Bambang kemarin. Selain itu bekas pengelola lahan dan saksi batas tanah juga didatangkan.

Upaya klarifikasi lapangan kemarin berlangsung mulai sekitar pukul 10.00 WIB. Sementara Serly selaku pihak yang telah membeli lahan dari Sumi juga turut hadir. Upaya klarifikasi antara kedua belah pihak yang bersengketa ini sayangnya tidak dihadiri oleh perwakilan pihak kepolisian sekedar antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi keributan.

 

Obyek lahan yang menjadi sengketa yakni sebidang tanah yang berstatus area penggunaan lain (APL) yang terletak di belakang lapangan sepakbola Desa Bakit Kecamatan Parittiga.

Menurut H Izhar Karim alias H Boya, salah seorang saksi yang juga mantan Kades Bakit di lapangan kemarin, membenarkan jika Sopian alias Bambang dulu mengelola lahan setelah ditarik ukuran luasnya sekitar 100 x 250 meter persegi.

BACA JUGA :  Antisipasi Stok BBM dan LPG Aman, Gubernur Erzaldi Gandeng Pertamina dan Pihak Swasta

Sekitar tahun 1997 di lahan itu juga masih terlihat tanah tumbuh berupa pohon kelapa dan pohon pisang dan di garap sendiri oleh Bambang termasuk kolam bekas tambak ikan.”Ketika itu saya jabat pada tahun 1997 sebagai kades,” ungkap H Boya.

Saksi lain Syaiful, mantan Kadus Bakit membenarkan, lahan yang dikelola Bambang seperti keterangan yang disampaikan mantan kades H Boya.

Dijelaskan Syaiful, sosok Sopian alias Bambang yang juga mantan kades Bakit tersebut, selama ini dikenal mempunyai jiwa sosial yang tinggi di kalangan masyarakat Desa Bakit. Sebagai bukti secara pribadi Bambang bahkan menghibahkan sejumlah lahan/tanah seperti untuk pembuatan TPA, PAUD, Puskesdes dan KSM sebagai aktifitas dan pengolahan sampah yang lokasinya persis di belakang lapangan bola Desa Bakit.

“Bangunan tempat pengolahan sampah inilah letak lahannya Pak Bambang dan itu pernah Kadus Amrullah datang kepada Pak Bambang minta hibah yag akan di buat tempat pengelohan sampah dan diberi secara hibah oleh Pak Bambang,” kenang Syaiful.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Kota Pangkalpinang Tekankan Tenaga Ahli Tingkatkan Kinerja dan Bantu Fungsi Tugas Kelembagaan¬†

Pantauan Forumkeadilanbabel di lokasi lahan sengketa kemarin, pertemuan pihak Bambang dengan Serly dihadiri 14 saksi dari pihak Bambang. Dalam upaya klarifikasi tersebut, justru dari pihak Sumi selaku pihak yang menjualkan tanah kepada Serly melalui perantara tidak bisa menghadirkan saksi yang bisa menjelaskan obyek sengketa. Hanya terlihat Amrullah Kadus Bakit.

Sementara itu Bambang saat memberikan penjelasan usai dari lokasi lahan miliknya yang disengketakan mengatakan, nama Aidi seperti yang disebutkan pernah menguasai lahan pada tahun 1980, kenyataannya tidak sesuai dengan faktanya.

“Ini sebagai bahan, Andi disitu disebutnya menguasai lahan tahun 80 (1980,red). Sementara disitu Aidi bekebon tahun 97. Lalu saksi surat itu hanya satu orang saat itu yakni Kadus Amrullah yang sekarang. Sementara Amrullah itu waktu mau buat KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) justru mau beli lahan sama saya. Jadi sebenarnya Amrullah itu tahu itu lahan saya (Bambang, red),” ujar Bambang secara pribadi mengaku dirinya justru menghibahkan tanah tersebut untuk pembangunan KSM.

BACA JUGA :  Buka Acara Adventure Offroad ManJa Bareng bersama IOF, Erzaldi: Jadilah Organisasi Yang Berdampak Untuk Masyarakat

Termasuk menurut Bambang, hal yang menguatkan lagi keterangan saksi yang berbatasan dengan Aidi yang mengatakan lahan yang sengketa tersebut menurut Bambang memang milik dirinya.

“Dan Aidi diminta oleh Pak Sumi mengaku itu lahannya Aidi. Diimingi-imingi Pak Sumi 3 juta rupiah. Ternyata diberi Pak Sumi 1,5 juta yang ditunjuk itu lahan Pak Sumi. Logikanya kalau itu lahan Pak Sumi kenapa nyuruh Aidi ngakunya, langsung aja bikin surat atas nama Sumi. Lalu surat itu timbul satu bulan sebelum lahan itu mau dijual,” papar Bambang seraya menyebut kejanggalan yang terjadi di depan Aidi dan itu dibenarkan oleh Aidi dan saksi yang lain.

Sebelumnya, Masyumi alias Sumi sendiri saat dikonfirmasi Forumkeadilanbabel.com di kediamannya mengaku lahan tersebut sudah dijual olehnya.

Sementara Pjs Kades Bakit Rusli saat dikonfirmasi di lapangan kemarin membenarkan pihaknya sudah mencabut penerbitan surat tanah yang telah dibuat atas nama Sumi dengan alasan tidak sesuai dengan dengan titik lokasi seperti yang disebutkan dalam surat. (Rudy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.