Home » Hukum » Lolosnya 150 Ton BBM Diduga Ilegal Masuk Pulau Bangka, Aparat Kecolongan atau Merestui?
Kapal Tengker jenis self propelled oil barge (SPOB) Rezki Ifah yang memuat 150 ton BBM jenis solar saat ini sandar di Dermaga Air Anyir, Jum'at (22/5/20). Foto : Rabel/don

Lolosnya 150 Ton BBM Diduga Ilegal Masuk Pulau Bangka, Aparat Kecolongan atau Merestui?

Pangkalpinang, FKB – Lolosnya kapal tangker kecil yang memuat 150 ton bahan bakar minyak jenis solar yang diduga ilegal ke Pulau Bangka dan berhasil bersandar di Dermaga Air Anyir seolah mengindikasikan bahwa para aparat terkait telah kecolongan.

Di tengah konsentrasinya para aparat dalam menangani pandemi virus corona atau Covid-19 ini, diduga oknum pengusaha yang bertujuan mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya memanfaatkan moment ini, terlebih saat menjelang hari raya idul fitri, dugaan adanya direstui oleh pihak aparat terkait justru kian menguat sehingga kegiatan tersebut lolos.

Dari hasil investigasi terbaru beberapa wartawan di Pangkalpinang menemukan adanya ratusan ton BBM yang diduga kuat ilegal diselundupkan di kawasan perairan pelabuhan Pangkalbalam. Tak tanggung-tanggung Aktivitas ini diduga pula telah beberapa kali dilakukan. Masuknya kapal tangker kecil ini seolah mengindikasikan bahwa para aparat terkait telah kecolongan.

Seperti dikutip dari radarbabel.com, tanker jenis self propelled oil barge (SPOB) Rezki Ifah memuat 150 ton solar yang diduga hasil penyulingan minyak mentah sumur rakyat dan tanpa dilengapi dokumen kapal, izin sandar, izin bongkar maupun izin angkut berhasil masuk ke Pulau Bangka tepatnya di perairan Air Anyir yang tak jauh dari Dermaga Polairud Polda Kep. Babel, Jumat (22/5/20).

Anehnya, pihak KSOP Pangkalbalam, Izuar saat dikonfirmasikans mengaku jika kapal tanker bawa BBM itu belum ada yang mengurus izinnya.

“Belum ada izinnya itu. Izin bisa keluar ketika agen datang dan dinyatakan lengkap. Itu kapal milik Sultan. Kapal masuk dulu, ambil dokumen, baru lapor. Sudah lama kapal itu gak masuk. Dulu pernah ketangkap Bakamla di Belinyu. Sementara agen kapal, Junaidi hanya sebatas menelpon dengan mengatakan kapal akan masuk tapi belum ke kantor. Kami tunggu-tunggu dokumennya dulu,” jelas Izuar seperti dikutip dari radarbabel.com, Jumat (22/5/20).

Dari konfirmasi tersebut setidaknya sejak awal sudah diketahui bahwa muatan yang diangkut mini tanker dengan nama lambung Rezki Ifah tersebut adalah jenis muatan yang harus terkonfirmasi mendalam. Karena hal ini terkait dengan kuota pasokan BBM yang resmi diperuntukkan bagi Babel.

Mengacu dari Undang-Undang RI No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, pada pasal 44 menyebutkan bahwa, “Pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya wajib dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Kemudian pada pasal 45 ayat 1 huruf (b) salah satu jenis barang dimaksud adalah “barang curah.” Pada Pasal 45 ayat 2 huruf (a) barang yang dimaksud adalah “bahan cair.” Kemudian Pasal 45 ayat (3) berbunyi, “Barang berbahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diklasifikasikan sebagai berikut” dan pada huruf (c) “cairan mudah menyala atau terbakar” (flammable liquids)

Mengacu dari Undang-Undang tersebut, jelas BBM masuk kategori barang berbahaya. yang tentunya memiliki SOP khusus sebelum sandar di perairan pelabuhan.

Hal ini dikuatkan dalam pasal 47 UU Ri No 17 tahun 2008 yang berbunyi “Pemilik, operator, dan/atau agen perusahaan angkutan laut yang mengangkut barang berbahaya dan barang khusus wajib menyampaikan pemberitahuan kepada Syahbandar sebelum kapal pengangkut barang khusus dan/atau barang berbahaya tiba di pelabuhan.”

Mengacu dari rule yang digariskan oleh undang-undang tersebut selayaknya tidak serta merta SPOB Rezki Ifah bisa mudah lego jangkar. Apalagi lokasi sandarnya yang tidak biasa, yakni menempel denganunit KIP Aisyah.

Selayaknya perlu perhatian serius dari aparat terkait khususnya penegak hukum untuk mendalami berbagai dugaan dan spekulasi yang dapat muncul. Tudingan dugaan penyelundupan pun yang paling mungkin diduga. Karena hasil pengakuan dari ABK yang ditemui wartawan mengaku kegiatan yang terungkap ini bukan yang pertama. Artinya sudah pernah sebelumnya.

Ini belum cerita soal asal usul BBM tersebut. Karena menurut sumber media, kapal tanker SPOB Rezki Ifah sudah menyalahi aturan main dengan melakukan bisnis terlarang. “Harus jelas dulu asal usul barang dari mana. Kalau dari Pertamina ada izinnya. Terus minyak tersebut peruntukan untuk apa dan siapa disini (Bangka) penerimanya, dipergunakan untuk apa. Dokumen niaga juga harus ada Izin Niaga Umum (INU),” kata sumber.

Tak hanya itu, kegiatan diduga ilegal ini sendiri ternyata banyak peminatnya, mulai dari tangki transporter, hingga KIP.

“Baru datang semalam pak dari Palembang. Bener bawak bbm solar sebanyak 100 ton. Tapi sekarang posisinya belum bongkar. Macem macem kalau yang ngisi. Ada yang dari mobil tangki, kapal isap, banyak yang ngisi,” kata salah satu ABK yang tinggal di kawasan TanjungApi-api Kota Palembang saat ditemui di lokasi, Jumat (22/5/20).

Lantas bagaimana dengan aparat kepolisian? karena seharusnya pihak kepolisian mendapatkan konfirmasi dari pihak KSOP terkait masuknya BBM yang diduga hasil penyulingan asal Sekayu Sumsel tersebut. Itu juga didukung oleh informasi intelijen. Karena saat ini pihak kepolisian secara umum fokus dan terkonsentrasi menyelamatkan negara ini dari bencana pandemic covid 19. Yang jelas data investigasi wartawan ini valid bahwa kegiatan ini sudah lebih dari sekali, seolah-olah begitu mulusnya proses masuk kawasan perairan Pangkalbalam dengan membawa muatan terkategori berbahaya.

Jika merunut kasus-kasus sebelumnya, seperti kasus kapal tengker tangkapan Bakamla beberapa waktu lalu yang hingga kini tak kunjung dilimpahkan ke Kejaksaan, bisa jadi bisnis BBM yang diduga ilegal ini juga diduga mendapat restu dari aparat terkait.

Dikonfirmasikan, Direktur Polisi Air dan Udara (Dirpolairud) Polda Babel, Kombes Pol Zainul melalui Kasubdit Gakkum, Kompol Ade Zamrah SIk yang dihubungi wartawan via telepon mengatakan akan mengambil langkah profesional.
“Yang jelas kita (Polairud) mengklarifikasi berita itu dulu. Kalau menurut saya kurang bijak kita langsung menuduh orang diduga ilegal. Kita mengatakan seseorang diduga saja tidak sembarang. Kita lakukan penyelidikan dulu, cari informasi dulu,” katanya, Jumat malam (22/5/2020).(red/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *