Home » Lokal » Kedaulatan Timah, Milik Siapa..?
Dr.Marshal Imar Pratama

Kedaulatan Timah, Milik Siapa..?

Oleh Dr. Marshal Imar Pratama

Timah merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan tidak lah bebas keberadaannya, sehingga untuk memperolehnya memerlukan pengorbanan yang lebih. Dengan kata lain barang ini langka adanya dan memiliki penggunaan alternatif, artinya untuk penggunaan sekarang dan penggunaan yang akan datang atau pilihan saat ini dan saat mendatang. Oleh karena itu, dengan adanya sumber daya alam yang terbatas dan kebutuhan manusia tanpa batas, maka kita harus mengoptimalkan penggunaan timah tersebut.

Menjual timah dalam keadaan belum jadi merupakan minimnya sumber daya manusia yang siap pakai di negeri ini. Bayangkan.. dimulai dari zaman kemerdekaan, melewati zaman orde lama, orde baru, reformasi dan sampai saat ini yang dibisakan oleh pemerintah hanya menjual barang yang belum jadi keluar negeri.
Apakah negara ini tidak cukup banyak orang-orang pintar yang memiliki kualitas dalam mengolah sumber daya alam dinegara ini sehingga menjadi lebih mandiri?
Atau apakah selama ini pemerintah tidak berniat dan gagal mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada agar dimaksimalkan penggunaan serta pengolahannya.

Sumber daya alam seperti timah merupakan harta warisan yang harus dijaga dan dimaksimalkan pengolahannya. Jika hanya memiliki mental menjual saja dan tidak dikelola dengan benar, maka apa bedanya dengan kerakusan anak-anak yang memperebutkan harta warisan saat orang tuanya meninggal dunia.
Dan seharusnya setiap keputusan pemerintah pusat selalu memiliki sasaran ganda dalam penggunaan sumber daya alam seperti untuk pertumbuhan ekonomi, mempertahankan keindahan lingkungan, pemerataan distribusi pendapatan yang dalam hal ini daerah penghasil timah harus diprioritaskan mandiri pasca timah, serta keinginan untuk membebaskan diri terhadap ketergantungan asing, lebih-lebih dalam masyarakat yang menganut sistem demokrasi.

Dikutip dari media nasional bahwa pertambangan timah di Bangka Belitung menjadi penyumbang pengangguran tertinggi di provinsi tersebut. Hal ini harus ada langkah kongkrit dari pemerintah pusat maupun daerah dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Saya menilai pemerintah pusat terlalu jauh campur tangan dalam memonopoli timah di Bangka Belitung, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan tidak hanya pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung saja yang menurun, akan tetapi pengangguran dan kemiskinan pun turut menyumbang masalah baru di Provinsi Laskar Pelangi ini. Akibatnya timah yang ada dimasyarakat menjadi tidak ada harganya alias tidak laku dijual.

Baiknya pemerintah pusat duduk bersama dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi sekaligus mengatasi permasalahan yang sedang terjadi, dan sebagai saran untuk pemerintah pusat agar tidak terlalu memaksakan kehendak sebagai tangan besi dinegeri sendiri, karna yang lebih tau kondisi riil suatu daerah adalah pemerintah daerah bukan pemerintah pusat. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *