80 Persen Warga Desa Pangkal Niur Tolak Aktivitas PIP, Kades Agustino Kuatir akan jadi Bom Waktu di Masyarakat

Lokal
Ratusan PIP beraktifitas di wilayah laut Desa Pangkal Niur, Minggu (22/12) membuat warga setempat resah.

Forumkeadilanbabel.com, Bangka — Masyarakat Desa Pangkal Niur Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai resah dengan adanya aktivitas Ponton Isap Produksi (PIP) yang merusak keindahan laut dan pantai Sunur Lestari.

Saat sejumlah awak media turun ke lokasi, disambut baik oleh masyarakat dan pemuda yang sudah berkumpul untuk melakukan aksi penolakan terhadap aktivitas ponton isap produksi yang mulai masuk ke laut mereka. Minggu,(22/12)

Berdasarkan keterangan masyarakat Desa Pangkal Niur, mereka sudah pernah melakukan pembakaran terhadap PIP berapa bulan lalu dan mereka pun sempat mengusir para pelaku tambang timah ilegal yang mengunakan PIP.  Berdasarkan keterangan ketua para penambang PIP inisial Jhn, mereka hanya menumpang parkir PIP saja, sambil menunggu masuk ke lokasi tambang timah ilegal.

BACA JUGA :  Gubernur Erzaldi Hantar Kepulangan Rombongan Gubernur Lampung

“Menurut keterangan ketua mereka Jhn. PIP ini hanya numpang parkir saja menunggu masuk tanjung batu dan pulau kianak kabupaten Bangka,” ungkap Andi warga Desa Pangkal Niur.

Selanjutnya Kepala Desa Pangkal Niur, Agustino mengungkapkan bahwa pihaknya melalui rapat musyawarah masyarakat Desa Pangkal Niur dan mufakat menolak adanya aktivitas ponton isap produksi di wilayah laut mereka.

“Berdasarkan hasil musyawarah mufakat 80% warga menolak adanya aktivitas PIP di laut kami yang juga masuk taman nasional maras,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa akibat aktivitas PIP di laut, warganya banyak mengalami kerugian besar karena hasil laut yang di dapatkan berkurang dan mangrove dilokasi tersebut banyak yang rusak.

BACA JUGA :  Stasiun Balapan Bangka Juarai Bola Voli Putra Babel Sport Games 2021

“Warga kami sudah banyak mengalami kerugian besar akibat adanya aktivitas PIP dilaut kami, air lautnya rusak dan kwalitas hasil laut sangat berkurang. Serta peternakan kerang, kepiting dan budidaya ikan laut banyak yang mati. Kami juga telah membuat pembatas ditengah laut agar tidak dilanggar oleh pelaku tambang timah ilegal” tutur Kades saat ditemui di kediamannya

Kades Pangkal Niur, Agustino menyebutkan jika tadi pagi dirinya bersama warga sudah melakukan penertiban dan razia dan mendapatkan dua unit PIP kemudian disita sambil menunggu siapa pemilik ponton isap produksi yang mencoba masuk laut mereka.

“Berdasarkan hasil penjelasan ketua mereka Jhn (warga Belinyu, red) menyebutkan kedua PIP hanya menumpang parkir saja menunggu masuk ke tanjung batu, sehingga PIP itu langsung ditarik dari laut kami,” sebutnya.

BACA JUGA :  Para Santri Iringi Gubernur Tandatangani Prasasti Ponpes Tahfidz Guntur dengan Lantunan Selawat

Agustino meminta kepada aparat keamanan untuk meyelesaikan permasalahan PIP yang ada dilaut mereka yang saat ini bukan hanya masyarakat Pangkal Niur saja yang menolak tapi ada beberapa desa juga menolak aktivitas PIP yang berada dilaut mereka.

“Hampir 80% pendatang yang melakukan aktivitas tambang timah dilaut kami mengunakan PIP kami takut menjadi “Bom Waktu” dimasyarakat. Kami harapkan aparat keamanan untuk meyelesaikan permasalahan jangan sampai terjadi di beberapa wilayah Bangka sehingga menyebabkan kerusuhan antara warga dan pelaku tambang tersebut,” pungkasnya. (Yuko).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.