Benteng “Kute Seribu” Muntok, Awalnya Dibangun Sultan Najamuddin 1760 M Untuk Melawan Bajak Laut

Lokal
Denah/Sketsa/keletakan objek

Forumkeadilanbabel.com, MUNTOK, — Keberadaan Benteng Kota Seribu atau biasa dikenal dengan istilah “Kute Seribu” yang terletak di Kelurahan Tanjung Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat, awalnya untuk mengusir para kawanan bajak laut dari Bugis dan Philipina.

Benteng ini dulunya dibangun oleh Sultan Najamuddin Adi Kesumo pada tahun 1760 Masehi yang merupakan anak dari Sultan Mahmud Badaruddin I serta masyarakat Siantan. Saat Perang Dunia II, benteng ini dipakai sebagai tempat berlindung dari serangan Jepang. Pemberian nama Kota Seribu berkaitan dengan jumlah sumbangan beras yakni seribu pikul dan uang seribu ringgit yang diberikan oleh pihak Sultan Ahmad Najamuddin kepada Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala sebagai Tumenggung di Pulau Bangka untuk membangun kubu pertahanan guna membangun benteng yang sebelumnya terbuat dari kayu tersebut.

BACA JUGA :  Hasanudin Harap Dengan Dicabutnya Izin PT Pulomas, Pendangkalan Muara Air Kantung Segera Teratasi

Sumber dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, obyek ini kini masuk dalam situs bersejarah dengan Nomor Register: Reg.BBL/BKB/47/2010 dengan nama obyek yakni Benteng atau nama lain Benteng Kota Seribu. Bangunan benteng tersebut sebelumnya dibangun dengan menggunakan tanah liat, lokasi tepatnya di Dusun/Kampung Lebak Sagu, Kelurahan Tanjung pada koordinat 105°09°37,5° BT dan 02°03°58,7° LS.

Tokoh masyarakat sekaligus pegiat sejarah di Muntok, Syarifudin Isa saat dikonfirmasi Forumkeadilanbabel.com, Sabtu, (14/12/2019), terkait polemik pembangunan jalan setapak yang melewati obyek ini terpaksa dihentikan Dinas Pekerjaan Umum Bangka Barat, menyarankan agar permasalahan ini dirembuk melibatkan pihak-pihak terkait.

“Permasalahan ini harus dirembuk dulu- lah karena permasalahan ini tidak begitu krusial saya pikir,” pendapat Syarifudin. (Rudy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.