Nelayan Dibikin Resah Akibat Ulah Tiga Bos Tambang di Air Mawar

Lokal
Pantauan sejumlauh wartawan, Rabu (21/8/2019), beberapa ponton tampak beraktifitas di muara sungai Air Mawar

Forumkeadilanbabel.com, Pangkalpinang — Sejumlah nelayan yang berada di sepanjang muara sungai Rangkui Kecamatan Bukit Intan Kota Pangkalpinang kembali dibikin resah.

Aliran sungai yang dangkal kembali dibikin dangkal akibat ulah penambang pasir timah ilegal.

Pantauan sejumlauh wartawan, Rabu (21/8/2019), beberapa ponton tampak beraktifitas di muara sungai Air Mawar. Sebanyak 3 ponton dengan sejumlah pekerja tambang sibuk mencuci pasir timah dan sebagian lainnya mengecam dengan suara mesin menderu.

“Baru kemarin berjalan, Pak. Ponton atau TI ini punya tiga bos, yakni Awe, Apo dan Belande, semuanya orang keturunan. Lumayan ngasil, apalagi kemarin sangat ngasil,” ujar David, salah satu pekerja saat dibincangi di lokasi, Rabu siang (21/8/2109).

BACA JUGA :  Ikuti Gerbang Surga, Molen: Membangun Masjid Itu Perlu Pengorbanan dan Ketetapan Hati

Ju, salah seorang nelayan yang kebetulan bertemu di lokasi terlihat kesal dengan para penambang di sepanjang muara sungai.

“Kemarin sempat senang sudah dirazia aparat gabungan dari Polres Pangkalpinang dan Sat Pol PP. Sekarang penambang berulah lagi dan ini yang bikin kami (nelayan) jengkel karena untuk lewat kapal saja sulit karena banyak ponton penambang, ” ungkap Ju bernada kesal.

Ju yang memiliki anak lima ini sehari-hari mencari nafkah sebagai nelayan meminta aparat penegak hukum bertindak tegas.

“Jangan hanya dibakar saja pontonnya. Pemiliknya juga diproses termasuk pekerjanya biar ada efek jeranya. Lihat saja, aliran sungai sekarang ini sudah dangkal kembali dibikin dangkal karena penambang membuang tailing ke sungai lagi. Percuma saia dikeruk tapi dibikin dangkal oleh pemambang, ” sesalnya.

BACA JUGA :  Puluhan Unit TI Rajuk Luluh Lantakkan Kawasan Industri Milik Pemkab Bangka

Di tempat terpisah, di lokasi Teluk Bayur juga ada aktifitas penambangan. Beberapa ponton terlihat beroperasi siang hari. Bahkan salah satunya, ada ponton milik oknum aparat kepolisian.

“Bukan tidak takut dirazia, tapi namanya buat makan apa boleh buat. Di sebelah kanan itu juga milik oknum anggota kepolisian yang kerja malam. Bahkan mengklaim kalau aliran sungai tempatnya nambang, lahan itu miliknya, ” ujar salah seorang penambang di Teluk Bayur.

Walikota Pangkalpinang, Maulan Aklil atau akrab disapa Molen belum berhasil di wawancara sementara dihubungi melalui sambungan telpon terdengar nada aktif namun belum direspon, ketika dihubungi melalui pesan elektronik WhatsApp dirinya masih melaksanakan Dinas Luar ( DL )

BACA JUGA :  Pasca Pencabutan Izin PT Pulomas, Gubernur Gandeng Primkopal Atasi Pendangkalan Muara Air Kantung

‚ÄúSiap Insha Allah akan ditindaklanjuti dan maaf lagi Dinas Luar (DL),” tulis Molen dalam pesan WhatsApp, Rabu (21/8/2019).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.