Mehoa : Jadi Pemimpin Harus Banyak Sabar, Ibarat Makan Boleh Sembarangan, Bicara Jangan Sembarangan

Lokal
Mehoa di mintai statement saat mengunjungi pasien kanker Nosafaring warga desa Trubus Khi Khun di RSCM dg Rujukan BPJS

FORUMKEADILANBABEL.COM, PANGKALPINANG  – Terkait pemberitaan yang sempat viral dengan judul Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh Keblinger, Sebut Wartawan Preman mendapat tanggapan dari berbagai kalangan.

Anggota DPRD Kabupaten Bangka Tengah, Mehoa meminta semua pihak harus bersabar. Pun demikian Ibnu Saleh sebagai pejabat negara harus banyak-banyak bersabar.

“Statemen saya terkait pemberitaan itu sabar-sabarlah kita selaku pemimpin ini. Saya jujur aja, sabar-sabarlah pak. Pak Ibnu juga ada wa saya sih. Kalau saya dapat berita itu di grup, saya buka, saya baca dan saya bayangkan dan pikirkan. Setelah itu gak tau tiba-tiba bupati wa saya, dia bilang gitu lah. Terus saya bilang, iyalah pak sabar-sabarlah selaku pemimpin, ” ujarnya saat dihubungi wartawan melalui ponselnya sembari menyampaikan jika saat ini dirinya sedang mengunjungi pasien kanker Nosafaring warga desa Trubus Khi Khun di RSCM dg Rujukan BPJS, Kamis (2/5/2019).

Dikatakan anggota dari PDI P ini, dirinya tidak mau menyebutkan Ibnu Saleh dengan kata-kata arogan. “Saya sih tidak mau bilang pak bupati arogan, nanti takut dipeleseti. Intinya sabar-sabar gitu. Ya kita ini makan boleh sembarangan makan, tapi ngomong jangan sembarangan ngomong. Iya itu aja, Ace (Mehoa) juga bukan manusia sempurna juga, ” tutupnya.

Sementara itu, Ketua DPW PAN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang juga mantan wakil Bupati Bangka Tengah  turut berkomentar soal sikap bupati yang arogan.
“Kalau saya berpendapat semua harus saling menghormati. Wartawan berdiri sebagai profesi dan bupati sebagai pejabat jangan lagi keluar kalimat yang tidak pantas seperti itu. Intinya kita saling menghargailah agar kejadian ini tidak terjadi lagi. Apapun wartawan, kelas medianya ataupun dan oplahnya adalah mitra sebagai kontrol pelaksana pemerintahan bergerak dan bersinergi. Harapan saya mudah-mudahan kedepan baiklah,” kata Patrianusa melalui ponselnya, Kamis (2/5/2019).

Ditanya soal arogan sang bupati yang juga turut dirasakan ASN dan juga kepala dinas, Patrianusa mengatakan itu adalah internal mereka. “Kalau masalah itu internal mereka, tapi kalau wartawan harus juga dihormati. Sebagus apapun pemerintah disana kalau tidak dieskpos media masyarakat tidak tahu juga, ” tandasnya.

Sekedar diketahui setelah dimuatnya berita bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh Keblinger, sebut wartawan preman banyak juga komentar di grup-grup wartawan yang mengatakan kalau kemarahan bupati disebabkan wartawan yang datang ke rumah dinas pada Senin (30/4/2019) tidak sopan.

Disebutkan dalam salah satu grup, bahwa bupati marah karena wartawan masuk nyelonong ke rumah dinas dan mengambil makanan di toples tanpa izin serta masuk memakai sepatu.

Seperti dalam pemberitaan sebelumnya,  sebanyak 6 (enam) awak media datang untuk menemui bupati guna konfirmasi terkait anggaran kehumasan di Pemkab Bateng namun sebelumnya salah satu wartawan yakni Ngadianto Asri (Sinarpaginews.com) telah menelpon bupati Ibnu Saleh dan dia setuju untuk ditemui. Lalu ke enam awak media ini pun datang ke rumah dinas bupati namun sayangnya sang bupati sedang rapat partai.

“Maaf Pak Bupati lagi rapat partai. Silahkan menunggu,” ujar salah satu anggota pol PP yang bertugas jaga pos, Selasa (30/4).

Lalu keenam awak media ini pun meminta izin kepada anggota Satpol PP yang berjaga untuk menunggu bupati. Selama sekira satu jam menunggu akhirnya sang bupati pun terlihat keluar dari ruang rapat.

Saat didatangi Ngadianto (sinarpaginews.com), bupati Ibnu Saleh justru menyuruh Ngadianto dan rekan media lainnya masuk ke rumah dinas dinasnya.

“Ke rumah dinas saja,” kata Ibnu Saleh seraya menunjuk rumah dinasnya.

Mendapat perintah seperti itu, beberapa wartawan langsung menuju rumah dinas bupati, membuka pintu dan masuk lalu duduk di kursi namun sebagian awak media ada juga yang masuk bersama bupati.

“Kalau saya makan keretek dua biji di dalam toples tidak izin nanti saya belikan yang baru jika itu dirasa tidak sopan. Pemimpin itu harus amanah pak bupati. Sekarang saja jadi pejabat dihormati, apapun omongan bupati didengari. Kalau sudah tidak jabat lagi mungkin tidak akan dihormati, ” sesal Roby, wartawan Jaya Pos saat menanggapi tudingan jika dirinya dan rekan rekanya nyelonong masuk ke rumah bupati dan buka toples serta memakan beberapa biji kretek yang tersedia di meja tamu.

Senada dengan Doni, wartawan radar babel, dirinya sangat menyesalkan sikap arogan bupati Ibnu Saleh. ” Saya sudah belasan tahun jadi wartawan baru ini melihat sikap seorang  bupati seperti itu. Sebagai pemimpin pak Ibnu hendaknya memberikan contoh yang baik dalam mengeluarkan statemen kepada wartawan bukan asal omong,” pungkasnya. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.