Akibat Membandel, Penambang Didemo Kelompok Nelayan Matras

Lokal

Forumkeadilanbabel.com, Sungailiat –  Sjumlah warga Kelurahan Matras yang tergabung dalam kelompok nelayan setempat mendatangi para penambang yang sedang beraktifitas di daerah bibir pantai yang terletak di Dusun Ake yang berbatasan langsung dengan Desa Deniang Dusun Air Hantu.

Para nelayan tersebut menuntut supaya aktifitas tambang tersebut di tutup lantaran tailing tambang tersebut akan merusak terumbu karang di tempat mereka mencari ikan .

Menurut keterangan dari salah satu anggota nelayan bernama Bondan jika sebelumnya kelompok nelayan sudah sering kali memperingati para penambang untuk stop melakukan aktifitasnya namun para penambang tersebut masih tetap juga beraktifitas sampai saat ini .
“Akhirnya hari ini, kami para nelayan Kelurahan Matras di dampingi Kasat Polair Polres  Bangka, AKP Elpiandi mengadakan penertiban ke lokasi. Keterangan dari Kasat Polair beberapa waktu yang lalu kita sudah pernah mengadakan dialog antara nelayan dengan para penambang akan tetapi hasilnya ya masih begitu begitu saja sebentar berhenti tak lama kemudian beraktifitas lagi .”jelasnya .
Menurut Bondan, jumlah yang pernah di data  oleh kelompok nelayan  ada sekitar 80 unit tambang yang beraktifitas di bibir pantai.
Carut marutnya aktivitas penambangan yang terjadi sekarang ini di karenakan kurang tegas nya aparat penegak hukum dan susah nya lapangan pekerjaan sehingga polemik tambang ilegal ini terus bermunculan.

Karena tak puas dengan hasil perundingan yang tercapai, kelompok nelayan ini pun dengan nada kesal mengatakan akan melaporkan kegiatan tambang tersebut ke Dinas Kehutanan Provinsi Kep. Babel.
”Ya pak. Kami akan laporkan kegiatan tambang rajuk tersebut ke Dinas Kehutanan Provinsi Babel,” janji Bondan yang diamini oleh rekan rekannya.

Sementara itu Kepala KPH Bubus Panca, Ruswanda dikonfirmasi kaitan tambang rajuk di Pantai Matras. Ruswanda mengakuinya jika kawasan tersebut tidak boleh ditambang lantaran masuk dalam kawasan hutan lindung pantai .

“Memang betul secara aturan kawasan itu masuk dalam kawasan Hutan Lindung Pantai (HLP), tidak boleh dilakukan penambangan dalam bentuk apapun,” ungkap Ruswanda, Senin (1/4).

Ditambahkannya, jika pihaknya sudah sering memberikan peringatan kepada para penambang namun mereka masih tetap saja menambang.

“Kami secara persuasif sudah sering melakukan peringatan -peringatan baik secara lisan maupun tulisan, tetapi penambang masih saja membandel,” pungkasnya. (Obi bewok)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.