Dugaan Penyimpangan Pengadaan Lampu PJU Jembatan Baturusa Kian Terkuak

Hukum
Kondisi Jembatan Baturusa Merawang di malam hari, sebanyak 20 unit lampu PJU sistem solar cell yang dipasang nyaris kesemuanya tak berfungsi

 

Forumkeadilanbabel.com, Bangka – Dugaan penyimpangan pengadaan lampu penerangan jalan umum (PJU) Jembatan Baturusa yang menggunakan sistem solar cell kian terkuak.

Setelah sebelumnya dugaan penyimpangan pengadaan lampu JPU sistem solar cell yang dipasang di Jembatan Baturusa sempat diungkapkan salah satu sumber forumkeadilanbabel.com beberapa waktu lalu.

Kali ini dugaan penyimpangan pengadaan lampu PJU Jembatan Baturusa kembali diungkap oleh salah satu pengusaha yang sudah lama bergerak di bidang solar cell di Bangka Belitung.

Fendi Andi pengusaha asli Babel ini mengaku jika dirinya dari awal sudah meragukan kualitas PJU jembatan tersebut.

“Bahkan saya sempat katakan kepada anak buah saya, lihat saja itu lampu (solar cell PJU Jembatan Baturusa.red), baru dipasang saja sudah mati semua. Padahal, ada kualitas lampu yang mutunya terbaik saja terkadang masih saja ada yang kurang. Apalagi sengaja kualitasnya dipilih yang bukan terbaik,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (19/3).

Menurutnya, pemasangan lampu PJU sistem solar cell di Jembatan Baturusa terkesan tidak beres. Hal tersebut dapat dideteksi dengan mudah.

“Mudah mendeteksi bagus atau tidak kualitas lampu solar cell itu. Begini, bila padamnya baru 1 bulan usai dipasang, 2 bulan usai dipasang, atau 1 tahun dipasang kemudian lampunya sering padam, berarti itu tidak benar. Apalagi kalau padamnya serentak (seperti yang terjadi pada solar cell Jembatan Baturusa itu, red), tetapi kalau padamnya cuma 1 atau 2 unit saja, berarti itu kulitasnya masih lumayan. Tapi ini kan nyaris semuanya padam,” ungkapnya blak-blakan.

Dikatakannya, secara fakta di lapangan nyaris semua lampu PJU sistem solar cell yang dipasang di Jembatan Baturusa itu tidak menyala.

“Jadi entah akinya dibeli dimana, panelnya dibeli dimana, lampunya dibeli dimana. Yang penting asal terpasang, selesai sudah,” duga Fendi.

Padahal kata dia, dalam pemasangan solar cell, tidak bisa sekedar asal pasang. Melainkan harus melewati hitungan dasar serta standarisasi.

“Seperti misalnya berapa watt kebutuhan lampu, sehingga harus berapa amper aki yang dibutuhkan, jadi di sini ada ukuran atau takarannya. Misalkan kebutuhan lampu 30 watt, maka untuk panel penyerap matahari itu 100 watt dan akinya harus 100 amper.
Kenapa harus begitu takarannya, karena sederhananya bila pijaran lampu 30 watt itu keluar kurangi saja energi yang 100 itu kepada 30 itu. Tinggal 70, dan inilah saving (cadangan.red) energinya. Begitulah seterusnya terjadi energi keluar masuk itu ideal,” terangnya.

Lebih jauh dikatakannya, sering terjadi pada banyak pemasangan –asal pasang- padahal antara 3 komponen utama yakni panel, aki dan lampu itu tak ideal. Sehingga kerap terjadi dalam waktu dekat sudah tak bisa berfungsi bahkan seperti yang terjadi di jembatan Baturusa itu.

Tidak cukup di situ, menurutnya walau pengaturan 3 komponen besar dan utama itu sudah ideal di atas kertas, tetapi juga tak bisa sekedar asal comot sana sini lalu komponenya dipasang.

Tetapi harus betu-betul dibeli pada toko solar cell yang berkualitas dan berstandar SNI.

“Nah, terkait dengan pembelian barang-barang yang mutunya tak berkualitas, khusus di Indonesia ini sangat gampang. Yang paling terkenal ketersediaan komponen abal-abal itu salah satunya ada di pasar Glodok Jakarta sana. Umumnya di sana tinggal dicari sesuai kebutuhan apakah kualitas terbaik atau asal-asalan. Lengkap di sana itu,” ungkapnya.

Terkait adanya garansi 2 tahun PJU solar cell Baturusa itu, Fendi Andi justru mengatakan jika pihaknya yang merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang menjual barang bermutu SNI saja, hanya memberikan garansi 1 tahun.
“Saya rasa mana ada garansi 2 tahun. Kita sendiri dengan barang bermutu SNI ini paling memberi 1 tahun garansi saja,” tukasnya.

Dia juga sempat membeberkan harga-harga komponen besar solar cell itu. Menurutnya komponen besar dan termahal adalah aki dan panel penyerap surya. “Kalau yang bagus harganya mencapai lebih dari Rp 2 – 3 juta. Untuk tiang itu sekitar 9 meter tergantung ketebalan dimana harganya kurang lebih Rp 4 juta,” ujarnya.

Soal besaran penganggaran, pada harga Rp 20 juta perunit menurutnya sangat besar dan wah. Sehingga dengan kondisi PJU solar cell yang tak menyala secara serentak serta gelap gulita sebanyak 21 unit, sangat tak wajar.
“Kalau dianggarkan sebesar itu Rp 20 juta berarti hasilnya harus tak ada lagi yang padam hingga 5 tahun ke depan. Dalam artian harga Rp 20 juta perunit itu adalah harga pas untuk mendapatkan lampu solar cell yang terbagus,” tandasnya.

Seperti dilansir sebelumnya, baru dipasang, lampu PJU di Jembatan Baturusa sudah tidak berfungsi dan hal ini menuai sorotan berbagai elemen masyarakat bahkan salah satu sumber forumkeadilanbabel.com menyebutkan jika lampu PJU yang berjumlah sekitar 20 unit yang telah terpasang di sekitaran Jembatan Baturusa tersebut adalah lampu yang diduga kuat barang rijeck.
“Lampu PJU yang dipasang dekat Jembatan Baturusa itu barang yang sudah di apkir (ditolak) dari tempat lain. Tapi dibawa ke sini (Jembatan Baturusa, red) untuk dipasang,” ungkap sumber, Kamis (7/3).

Maka kata dia, kalau lampu tersebut tidak menyala itu wajar sebab barangnya barang yang di tolak di tempat lain kemudian dipasang di Jembatan Baturusa.
“Dari awal kami ingatkan kontraktor soal lampu PJU itu. Ini barang sudah di apkir dari tempat lain maka tidak usah dipasang di sini. Tapi kontraktor tetap memasang. Akhirnya ya seperti ini hasilnya,” terangnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.