Mengenang Sosok Bupati H Parhan Ali, Pemimpin dan Birokrat Pekerja Keras Ingin Sukses Dunia Akhirat

Lokal

 

 

Oleh : Rudy

 

FORUMKEADILANBABEL.COM, MUNTOK, — Bupati Bangka Barat H Parhan Ali hari ini, Jumat, (1/1/2019) tutup usia pada usia 71 tahun. Putra asli kelahiran Muntok, Kabupaten Bangka Barat ini meninggal selepas asar, 15.55 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Soekarno, Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat berduka terlebih sosok pemilik telandan ini memiliki segudang prestasi.

Forumkeadilanbabel.com, merangkum karir perjalanan Almarhum semasa hidup.
Lahir di Muntok pada tanggal 19 Januari 1947 Parhan Ali kecil menyelesaikan pendidikan SR 1954-1960, dilanjutkan menempuh pendidikan SMPN Muntok 1960-1963. Hijrah ke Bandung Parhan Ali melanjutkan pendidikan SMA Bandung 1963-1966. Keputusan untuk memilih studi ekonomi diteruskan dengan melanjutkan pendidikan sarjana (S1) di Institut Ilmu Keuangan (IIK) mulai tahun 1968-1971, 1971-1975 tugas kerja dilanjutkan kemudian 1975-1977. Minat Parhan Ali meneruskan pendidikan begitu tinggi hingga berhasil meraih gelar S2 di bidang Magister Managemen IPWI, Jakarta 1993-1996.

Berbagai pendididikan non formal pun ditempuh. Mulai dari mengikuti pendidikan The Academy of International Texation Republik of China, April-September 1990, SPADAYA LAN, 1991serta berbagai diklat termasuk Diklat Pim Tk II/SPAMEN LAN tahun 2004.

Dua periode terpilih memimpin Kabupaten Bangka Barat, suami Annisa ini memiliki hobi olahraga jogging dan senam pernapasan ini banyak membawa perubahan terutama infrastruktur. Prestasi pun beberapa kali diraih terutama capaian target dibidang perpajakan.Kendati pemimpin dan pekerja keras urusan ibadah tetap menjadi prioritas melalui motto nya “Capai Kesuksesan di dunia tapi Utamakan Akhirat.

Hanya sayang, Allah berkehendak lain. Bersama Wakil Bupati Bangka Barat, Markus SH, Sang Bupati ini duluan memenuhi panggilan Sang Maha Kuasa hingga tidak bisa menyelesaikan periode kepemimpinannya sampai tahun 2021.

“Selama ini memang kondisi kesehatan bapak tidak memungkinkan. Bapak masuk tapi hanya ngantor di pavilium, sambil menunggu masa pemulihan. Beliau memang cinta daerah, sampai-sampai berpesan kalau seandainya meninggal ingin meninggal di Muntok,” ujar Direktur RSUD Sejiran Setason, Yudi Widiayansah, yang selama ini memantau perkembangan kesehatan Almarhum, kepada Forumkeadilanbabel.com, beberapa hari lalu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.