Jeritan Masyarakat Pulau Bangka, Lada, Karet, Sawit Murah, Cari Timah Juga Sudah Susah 

Hukum Lokal

 

 

Forumkeadilanbabel.com, Pangkalpinang – Keluh kesah masyarakat dari kampung kampung di Pulau Bangka tentang kehidupan mereka saat ini. Dimana harga hasil pertanian yang diharapkan bisa menopang kehidupan mereka ternyata justru makin terpuruk. Hasil tani mereka dihargai murah bahkan tidak sedikit dari hasil itu tidak laku dijual lantaran tidak ada yang mau membelinya.

 

Keluh kesah tentang kehidupan dengan ekonomi yang makin sulit ini diungkapkan sekumpulan masyarakat dari kampung di pulau Bangka kepada forumkeadilanbabel.com saat berada di rumah sakit Bhakti Wara Kota Pangkalpinang, Jum’at (30/11).

Mereka bercerita tentang kebun sahang (kebun lada, red) mereka. Dimana batang sahang (tanaman lada, red) mereka banyak yang mati secara tiba tiba padahal baru saja mereka pupuk. Segala cara mereka lakukan, bahkan obat sakit kepala “Bodrex” pun mereka jadikan pupuk untuk mengobati sakit batang sahang mereka yang menguning dan mengeriting.

BACA JUGA :  Masih Soal Fee 20 Persen, Kajati Daroe : Bensin Kami Masih Penuh

Padahal menurut mereka, modal yang dikeluarkan untuk berkebun lada tidak sedikit. Untuk 1 hektare lahan saja, mereka harus beli dengan harga Rp.30 juta,lalu biaya pembukaan lahan berkisar Rp.10 juta, kemudian  bibit sahang 1 batang serharga  Rp. 8 ribu x 1000 batang hingga total biaya bibit mencapai Rp. 8 juta, upah tanam Rp, 3 juta, junjung tinggal pilih biasa atau super yang biasa harganya 35 ribu yang super 50 ribu x 1000 batang yang biasa 35 juta, pupuk 10 juta

Untuk 1000 batang yang tumbuh dengan tidak terpapar virus kuning dan mengeriting dengan rata rata hasil panen sekitar 200 kg, namun jika terjangkit virus kuning dan mengeriting maka hasil panen hanya berkisar  50kg.

Lalu apakah pantas dijual dengan harga Rp. 50 ribu perkilo ?

Tidak hanya itu saja mereka  juga bercerita tentang harga sawit dan karet yang ikut ikutan murah menambah derita mereka. Padahal modal yang mereka keluarkan begitu besar  dari puluhan hingga ratusan juta untuk menjadi seorang petani Lada, Sawit dan Karet dengan harapan dapat menopang ekonomi mereka namun kian hari justru harga hasil panen turun begitu tajam.

BACA JUGA :  Air Susu Dibalas Air Tuba, Motor Tuan Rumah Dibawa Kabur RZ

Apakah pantas harga karet Rp. 3000 per kg  dan buah sawit dibeli dengan harga Rp. 400 per kg ? Namun demikian kenyataanya.

Tidak hanya pertanian,  menurut mereka pertambangan juga sekarang sudah susah walaupun harga pasir timah sangat tinggi sekitar Rp. 140 ribu per kilo tapi lahan yang mau ditambang juga sudah susah. Mereka harus berbagi hasil dengan pemilik lahan yang disewakan kepada para penambang dengan membayar royalti per kilo pasir timah sebesar Rp. 40 ribu.

Disisi lain penambang kecil hanya bisa memanfaatkan sisa ex tambang untuk dikelola kembali berharap masih ada sisa untuk mereka dapatkan, terkadang seharian mereka berkerja hanya mendapatkan sekitar 4-5 kilo berbeda dengan yang tambang besar setiap hari ada yang mendapatkan 4 sampai 5 kampel (karung kecil berisikan 50 kilo, red) perhari.

BACA JUGA :  Turnamen Ecofest Festival 2021, Tim Futsal Polman Babel Siap Berkompetisi

Tidak sampai disitu saja, selama berada dirumah sakit selain mereka tidak bekerja lantaran menemani anak yang sedang sakit bersama istrinya. mereka juga belum memiliki BPJS kesehatan, sehingga harus membayar biaya perawatan rumah sakit dengan menggunakan uang pribadi.

Mereka hanya berharap ke depan pemerintah atau penjabat daerah jangan hanya memperhatikan infrastruktur dan sarana prasarana umum saja. Tapi bagaimana memikirkan nasib para petani seperti sekarang ini yang berhadapan dengan kondisi dimana harga hasil panen mereka tidak sebanding dengan  modal besar yang mereka keluarkan.

Mereka juga mempertanyakan kebijakan pemerintah daerah tentang resi gudang,  adakah peran dan manfaatnya dalam mendongkrak harga lada? (Yuko)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.