Walikota Diminta Peduli, Ribuan TI Apung Beroperasi Ancam Pariwisata Pasir Padi

oleh

Forumkeadilaanbabel.com, Pangkalpinang – Tambang Ilegal (TI) jenis ponton apung (TI apung) yang jumlahnya  diperkirakan mencapai ribuan yang beroperasi di sekitar perbatasan antara perairan wisata Pasir Padi Kota Pangkalpinang dan Desa Sampur, Kabupaten Bangka Tengah kembali menuai kritikan warga sekitar. Belum selesai isu perkelahian antar pekerja tambang dan masyarakat sekitar lokasi, gemuruh mesin, limbah minyak dan asap hitam membumbung seolah semakin membuat pekat wajah pariwisata perairan setempat.

Selain itu dampak sedimentasi yang dihasilkan dari limbah lumpur aktifitas penambangan TI apung tersebut selain menjadikan polusi juga mengganggu habitat biota laut perairan pantai Pasir Padi yang selama ini dijadikan icon pariwisata Pangkalpinang.

Sejumlah pewarta yang tergabung dalam Himpunan Pewarta Indonesia (HPI) Bangka Belitung (Babel),
Sabtu (24/11/2018) sekitar pukul 16.45 WIB, menyaksikan langsung bagaimana wilayah perairan tersebut dihajar TI apung yang jumlahnya diperkirakan mencapai ribuan dan masih terus bertambah. Cuaca memang cukup cerah sore itu, kendati hujan baru saja membasahi Desa Sampur dan Batu Belubang  Kabupaten Bangka Tengah tak mengurungkan niat para pewarta HPI Babel mendekat menuju sumber kepulan asap hitam yang dimaksud.

Namun sayangnya para awak media ini tidak dapat meninjau secara langsung  mendekati aktivitas para penambang TI apung di lokasi perairan laut Pasir Padi dan Sampur, dikarenakan tidak ada perahu dan kapal nelayan yang bersedia mengantar para pewarta HPI Babel mendekati kegiatan penambangan TI apung tersebut.

Selain membahayakan keselamatan para Pewarta HPI Babel, alasan lain hari sudah menjelang malam dan diperkirakan masuk waktu magbrib ketika sesampainya disana apabila perjalanan tetap dipaksakan.
“Kalau kita pergi sekarang dipastikan sampai ke lokasi TI apung akan malam diperkirakan hampir 1 jam kesana, dari sini terlihat dekat namun ketika menuju ke lokasi baru terasa jauh ” kata Salim warga Sampur kepada Pewarta HPI Babel.

Namun demikian, Salim tidak membantah kegiatan aktivitas TI Apung masih berlangsung dan kondisinya aman-aman saja.
Ketika disinggung terkait terdengar ada keributan antara warga setempat dengan para penambang, walaupun terkesan menutupi Salim enggan berkomentar.
“Kalau itu saya kurang tahu, kalau dulu pernah saya dengar tapi sudah tenang dan aman ” pungkas Salim sembari pamit meninggalkan para Pewarta HPI Babel.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Pewarta HPI Babel di lokasi,memang benar jumlah para penambang TI apung wilayah tersebut terus bertambah banyak bahkan diperkirakan mencapai ribuan yang beroperasi di wilayah Izin Usaha Penambangan (IUP) PT Timah Tbk dan di IUP pemerintah daerah.
Belum diketahui secara pasti, apakah timah  itu ditampung oleh kolektor timah atau kolektor smelter perusahaan swasta.
“Kalau timahnya jarang kami lihat diturunkan di sini, karena di tengah laut sudah ada kolektor timah yang mengambil timah dari para penambang TI apung ”  kata Andi yang mengaku warga Desa Kebintik.

Terlepas TI apung itu beraktifitas di IUP PT Timah Tbk dan Pemda, sejumlah pihak mengkuatirkan pencemaran limbah berupa sendimentasi lumpur yang dibawa arus laut telah mencemari sepadan pantai Pasir Padi dan Tanjung Bunga, dan akan lambat laun Pantai Wisata Pasir Padi terancam akan rusak secara permanen. Itu  Walikota Pangkalpinang yang baru dilantik diharapkan peduli terhadap masalah keberadaan TI apung ini guna  menindaklanjuti keresahan masyarakat pecinta Pariwisata Kota Pangkalpinang. (editor: Rudy).
BACA JUGA :  Perkuat Misi Dagang Antar Provinsi, Babel Teken MoU dengan Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.