AROMA KKN DALAM PERENCANAAN DAN LELANG MEGA PROYEK GEDUNG TERPADU JILID 2 STAIN SAS BABEL

Hukum Lokal

 

Forumkeadilanbabel.com, Pangkalpinang – Aroma adanya KKN (korupsi kolusi nepotisme) dalam mega proyek pembangunan gedung terpadu jilid 2  milik STAIN SAS yang kini berubah jadi IAIN SAS Babel semakin menyeruak.  Hal ini terkuak setelah adanya mengakuan dari pihak pendampingan hukum dari Asisten Perdata dan Tata usaha Negara, Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, yang mengatakan pendampingan proyek gedung terpadu IAIN SAS senilai Rp 30,4 milyar bersumber dana SBSN dimulai ‘tengah jalan’. Yakni saat proyek gedung itu masuk tahapan konstruksi dan teknis saja.

 

Sementara dalam tahapan awal yakni perencanaan dan lelang pihaknya tak dilibatkan sama sekali oleh pihak Rektorat dan pejabat pembuat komitmen atau PPK.

“Betul (adanya pendampingan proyek), di sini Datun dilibatkan. Tetapi kita tidak dari awal dalam mengawalnya, cuma dimulai dari kontrak teknis yakni konstruksi.  Kalau di awal proyek yakni perencanaan dan lelang kita tidak dilibatkan pihak STAIN SAS,” kata Asdatun  Amir Syarifuddin dalam wawancara kepada wartawan di ruangan Datun belum lama ini.

 

Tidak dilibatkan di ‘pintu masuk’ mega proyek perencanaan dan lelang itu menurut Amir pihaknya tidak mau ambil pusing. Baginya saat ada pihak-pihak stake holder yang membutuhkan pendampingan hukum siap untuk membantu.  “Walau kita dilibatkan hanya di tengah jalan itu, tidak masalah.  Prinsip kita dalam hal ini berpegang pada isi kontrak,” ujarnya yang kemarin didampingi juga oleh jaksa Cepi Perdana.

 

Isi kontrak itulah yang dipelajari dan pihaknya akan melakukan sikap bilamana ada wanprestasi (pelanggaran) maupun prestasi dalam hal konstruksi dan teknis.

“Isi kontrak dalam  hal teknis dan progres itu bagaimana, kita bisa lihat kalau ada prestasi dan wanprestasinya. Tetapi kita tidak akan masuk ke dalam kontrak perencanaan dan lelang itu bilamana bermasalah di kemudian hari, karena memang kita tidak masuk di sana,” sebutnya.

 

 

Terkait adanya dugaan aroma KKN dalam tahapan awal proyek yakni perencanaan dan lelang itu menurutnya nantinya ada pihak APIP dan Dirjen yang turun tangan. Kalaupun nantinya sampai terjadi dugaan KKN seperti yang media beritakan tentu akan berproses hukum.

“Jadi pendampingan yang dilakukan ini, harus dibedakan mana yang penyidikan dan mana yang sifatnya perdata. Jadi misalnya ada pelanggaran pidana di situ, seperti yang diberitakan media ada KKN itu ya harus dibedakan. Kita profesional di situ,” tuturnya.

 

Saat wartawan menyinggung dugaan ketidak beresan dalam pelaksanaan perencanaan dan lelang dia belum mau mengomentari banyak. Menurutnya biar APIP dan Dirjen yang turun memeriksa.

“Saya ada baca media, katanya ada keanehan lelang cuma diikuti satu perusahaan saja. Perusahaan yang menang pun adalah perusahaan yang gagal lelang. Nanti kita telusuri lagi,” elaknya.

 

Diakuinya juga dia sempat mempertanyakan kepada pihak Rektorat kenapa pihaknya hanya dilibatkan di tengah jalan itu. Namun ketua PPK yakni Zakhwan Zaki mengaku lelang sudah berjalan.

“Saya sempat tanya kenapa baru sekarang kita dilibatkan untuk pengawalan. Dia cuma bilang lelang sudah berjalan,” tukasnya.

 

Sementara itu dari informasi yang wartawan terima  lelang berlangsung di  LPSE Kementrian Luar Negeri yang mana diikuti 44 peserta perusahaan. Tapi anehnya yang bisa  terdaftar hanya 1 perusahaan yakni PT ATP saja.

 

Sayangnya hingga berita ini diturunkan, PPK proyek pembangunan gedung terpadu STAIN SAS Babel, Zakhwan Zaki  belum berhasil dikonfirmasi terkait aroma dugaan adanya KKN pada perencanaan dan lelang tender  pembangunan gedung terpadu jilid II STAIN (IAIN, red) SAS Babel.

 

(Red/FkB)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.