MASYARAKAT TOBOALI DESAK POLDA SIKAT PEMILIK MODAL BUKAN KELAS TERI

Hukum Lokal

– POLDA DIBERI DATA TAMBAHAN BERUPA VIDEO AKTIVITAS EKSPLOITASI

– WARGA KANTONGI GBU TELAH KIRIM 2 KALI PASIR KUARSA KE LUAR DAERAH

 

Forumkeadilanbabel.com, Pangkalpinang  – Penanganan kasus  4 alat berat yang merambah  kawasan hutan lindung  dan hutan produksi di Kubu,  Toboali, oleh Direskrimsus Polda Bangka Belitung dinilai oleh tokoh pemuda Toboali belum menyentuh otak utama.  Pasalnya penetapan tersangka baru hanya menyentuh pada penanggung jawab lapangan yakni Syariat. “Syariat itu hanyalah karyawan dan orang biasa, mana mungkin dia sanggup miliki 4 alat berat seperti itu. Syariat itu bekerja pada pemilik modal, tetapi entah kenapa belum juga Polda menyentuh pemilik modal utamanya itu,” kata Kodi Midari yang juga selaku pihak pelapor penambangan liar kepada Kementrian Kehutanan RI.

Dikatakan Kodi dalam eksploitasi hutan dan pasir kuarsa  tidak dilakukan atas nama perorangan melainkan perusahaan. Yakni PT Global Balakosa Utama (GBU). Kodi juga akui telah memonitor detil kegiatan perusahaan yang di sebut-sebut jaringan smelter besar di kota Pangkalpinang.  “Jadi bilamana hanya seorang Syariat yang ditangkap, sementara bos besarnya terkesan diistimewakan penyidik sangatlah ironi. Kita mintakan ketegasan dan tanpa pandang bulu,” desak Kodi lantang.

Adanya aktivitas perusahaan GBU yang ilegal itu menurutnya sangat nyata dan kentara. Karena perusahaan tersebut selain mengeksploitasi hutan lindung dan produksi tanpa izin juga telah menjual pasir timah ke luar daerah.

“Kita punya videonya, ada aktivitas pasir masuk tongkang, lalu pengiriman pasir dengan tongkang  ke luar daerah. Pengiriman melalui pelabuhan Kubu Basel terpantau kita sebanyak 2 kali,” sebutnya gamlang.

Dokumentasi video-video tersebut katanya telah diserahkan kepada pihak penyidik Rekrimsus Polda Bangka Belitung.  Harapanya dengan bukti-bukti aktivitas ilegal tersebut penyidik bisa menyentuh tersangka ikan kakap bukan kelas teri seperti Syariat. “Tadi siang (kemarin, red) saya sudah ke Polda, saya hubungi Direskrimsus pak Mukti tetapi katanya dia di Belitung dan meminta saya menemui pak Wayan (Kasubdit). Tetapi pak Wayan sibuk, jadi berkas-berkas dan CD video aktivitas pengiriman pasir ke luar daerah itu saya titip kepada petugas untuk dijadikan data dan bukti penyidikan yang mendalam dan bukan ala kadar,” ungkapnya.

 

Sebagai pihak pelapor, lanjutnya, akan terus mengawal kasus ini agar Polda  Bangka Belitung dapat tegas, adil  dan komprehensif dalam menyidiknya. Jangan sampai ada kesan setengah hati dan pandang bulu mengingat adanya keterlibatan pemodal besar.

“Kesempatan Polda untuk menunjukan kalau mereka tegas kepada  pemodal besar yang telah mengeksploitasi hutan lindung dan produksi beserta hasilnya  tanpa menguntungkan daerah.  Kita terus kawal ini semua,” tegasnya.

 

Menyinggung kaitan kemunculan nama pemodal Hendri Gondrong anak pemilik smelter di Pangkalpinang dia menyebutkan hal yang sama dengan pemberitaan media selama ini. Bahkan nama tersebut tambahnya sudah familiar  di kalangan masyarakat. “Kita juga mengantongi nama sama kalau  bos besar GBU yakni Hendri Gondrong. Sama dengan nama yang tertulis di media-media, kami juga mengantongi nama Hendri Gondrong juga,” ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, Tim gabungan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Dinas Kehutanan   Bangka Belitung bersama tim penegakan hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakum KLHK) sebagai pihak awal yang menangkap 4 PC namun  diserahkan kepada  Polda Bangka Belitung untuk penyidikan. Penyidik Direskrimsus Polda Bangka Belitung menetapkan tersangka awal yakni Syariat warga desa Pagarawan, Merawang,  Bangka.

Penetapan tersangka ini disampaikan langsung oleh Direskrimsus Kombes Mukti Juharsa melalui pesan whatshapp. “Sudah ada penetapan tersangka, sudah ditahan. Detilnya tanya pak Wayan (Kasubdit),” ungkapnya.

Kasubdit IV Tipiter AKBP I Wayan Riko Setiawan mengatakan, penetapan tersangka tersebut setelah terlebih dahulu penyidik melakukan penyelidikan. Sebab pihak Gakum KLHK hanya melimpahkan 4 alat berat serta lokasi penambangan saja kepada pihaknya. “Kita tidak langsung-langsung menetapkan tersangka, karena kasus itu cuma alat berat saja dilimpahkan. Ini alat beratnya, siapa pemiliknya KLHK tidak tahu,” kata Wayan kemarin.

Wayan katakan dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi sebanyak kurang lebih 5 orang ditemukanlah seseorang yang mengaku sebagai pemilik, yakni Sariat. “Akhirnya berdasarkan bukti-bukti dan keterangan saksi penyidik menetapkan tersangka kepada Syariat. Syariat akui seluruh alat berat tersebut miliknya,” ungkapnya.

Disinggung kalau Syariat hanyalah pelaksana lapangan, sedangkan pemilik diduga adalah bos timah Pangkalpinang, Hendri Gondrong, Wayan mengaku belum ada bukti. “Untuk menetapkan tersangka itu kita butuh bukti kuat.  Pembuktian kepemilikan kepada Hendri Gondrong itu belum ada. Yang ada sementara ini Sariat yang mengaku memilikinya,” ujarnya.

Dalam kasus ini dikatakan Wayan, tersangka  Syariat telah melakukan penambangan timah di kawasan hutan lindung. Dia melakukan tanpa ada mengatongi izin dari pihak berwenang.  “Dia itu bukan perusahaan tetapi pribadi. Izinya tidak ada, makanya kita lakukan penindakan,” tandasnya.

Penyitaan 4 unit PC ini dilakukan KLHK pada tanggal 10-11 September 2018 lalu. Barang tersebut  sempat telah diamankan lebih dulu oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Muntai Palas Dinas Kehutanan Provinsi Babel. Baru kemudian dilimpahkan ke Polda guna penyelidikan lebih lanjut.

 

(Red/FkB)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.