Shock Terjadinya Penggerebekan dan Opini Masyarakat

Kriminal Lokal

Pihak Keluarga Pabrik Kecap Ungkap Proses Pembuatan secara Halal, Higienis dan Aman Dikonsumsi

Pabrik kecap Kantongi 20 Perizinan Pemerintah termasuk sertifikat halal dan izin BP POM !

 

Forumkeadilanbabel.com, Sungailiat – Penggerebekan Pabrik Kecap bermerek SS dan Siong oleh Subdit Indag Dirkrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 10 / 10 2018 yang lalu membuat keluarga pemilik pabrik kecap merasa shock.

Bukan hanya dikarenakan adanya dugaan pelanggaran hukum yang mengakibatkan inisial O ( 56 tahun) dan 2 pegawai ditetapkan sebagai tersangka, tapi mereka (pihak keluarga) juga menyayangkan opini negatif yang berkembang di kalangan masyarakat terhadap kecap yang mereka produksi selama turun temurun dan juga sebagai mata pencaharian utama keluarga serta 23 orang pegawai mereka.

Keluarga pun datang dari berbagai daerah tak terkecuali anak perempuan O bernama Anisa yang bekerja di perusahan kimia di Amerika Serikat.

Ditemui beberapa awak media di kediaman pribadinya sekaligus pabrik kecap, keluarga tersebut mengungkapkan rasa tertekan mereka karena merasa telah mengikuti aturan dari Pemerintah yang dibuktikan dengan mengantongi sekitar 20 perizinan serta surat menyurat agar produksi kecap mereka selama ini dapat memenuhi satandar dan aturan yang telah di tentukan Pemerintah, Minggu (14/10/2018).

” Poses produksi kecap setelah dibuat kita hanya ambil 95 persen saja dari tangker, sisanya 5 persen tidak kita ambil untuk jaga mutu. Ini yang ada cecak jatuh terlihat berkarat dan kusam karena memang belum kita bersihkan karena memang belum kita pakai lagi untuk produksi setelah sekian lama. Ini yang ada cicak jatuh hanya satu tangker dari 9 tangker yang kita gunakan, anehnya, ini dijadikan indikasi bahwa kecap kita tidak halal dan tidak higienis, perlu diketahui itu hanya kebetulan dan setiap kita mau pakai lagi selalu kita bersihkan”  terang Sudaryanto kakak tersangka.

BACA JUGA :  Pokdar Kamtibmas Dampingi Sat-Binmas Polres Pangkalpinang Sasari Warga Bagikan Bantuan Beras

“Alangkah bodohnya kita memproduksi kecap menggunakan tangker kotor apalagi kotorannya kita campur, nah dalih seperti ini pak yang merugikankita karena menjadi opini masyarakat terhadap kita selaku produsen kecap” imbuhnya.

Sudaryanto juga menyampaikan jika produksi kecap mereka selalu dipantau oleh dinas Tenaga Kerja, Perdagangan dan Koperasi.

” Perlu diketahui juga seluruh produk kita itu selalu di pantau dinas termasuk Dinas Tenaga kerja, Perdagangan dan Koperasi. Meraka ada pengkajian dan diterbitkan sertifikat dan itu semua kita penuhi seperti sertifikat sehat, layak, halal dan BP POM semuanya ada sekitar 20 sertifikat”  bebernya.

MOLASE itu tetes tebu alami bukan limbah !!
Anak tersangka, Annisa juga meluruskan tulisan di beberapa media yang mereka anggap keliru mengenai adanya bahan baku Morales yang terkesan sebagai bahan baku utama pembuatan kecap mereka.

Menurutnya Morales yang dimaksudkan tersebut sebenarnya adalah MOLASE yang mereka akui memang digunakan, namun bukan limbah dan peruntukannya bukan sebagai bahan utama melainkan sebagai bahan campuran yang persentasinya sedikit.

 

Dijelaskan meraka bahwa molase yang mereka gunakan itu adalah zat alami berupa tetes tebu yang berfungsi sebagai zat berupa pengikat senyawa dan penguat rasa gula atau sebagai bahan Fermentasi khusus produksi kecap manis.

” Itu salah pak, tidak mungkin bahan bakunya Molase semua. Kita luruskan itu namanya bukan morales tapi Molase dan itu bukan limbah. Itu adalah tetes tebu alami salah satu unsur penambah rasa manis kecap kita ” terang Annisa.

Yang ditimbun itu limbah kecap bukan Molase dan limbah itu selalu dibuang!!

BACA JUGA :  Kolaborasi Panitia Nelayan Matras & PT Timah Membantu Sarana Pendidikan SD di Wilayah Terdampak

Pihak keluarga juga mengklarifikasi fhoto dan video yang berdar berupa tumpukan karung yang terkesan merupakan limbah yang digunakan sebagai bahan baku.

Disampaikan mereka bahwa tumpukan karung tersebut bukanlah bahan baku namun limbah sisa hasil produksi kecap berupa kacang kedelai yang akan dibuang.

” Nah yang ada di fhoto timbunan karung kotor itu salah kalau dianggap bahan baku kita membuat kecap. Itu baru namanya limbah kedelai bekas kecap kita, yang kita timbun untuk dibuang dan selalu kita buang. Ini asumsi yang salah karena itu bukan bahan baku kita. Bahan baku kita ya kedelai sesuai komposisi dan yang ditimbun itu juga bukan molase, karena molase itu tetes tebu tidak bisa ditimbun seperti itu di dalam karung” ungkap Annisa lagi.

 

Ditanyakan mengeni video adanya bangkai cicak dalam tangker. Pihak keluarga menyampaikan bahwa tangker ( storage) tersebut adalah salah satu dari 9 tangker produksi yang di gunakan, satu tangker pembuatan tersebut memang belum dibersihkan karena belum produksi dan kebetulan lagi apes tersorot video di salah satu tangker ada cicak yang jatuh dan baru mati.

 

Sedangkan tengker lainnya tidak ada, hal semacam ini memang mereka akui sebagai kelalaian namun bukan berarti mereka tidak higienis dalam memproduksi kecap hanya karena karena 1 dri 9 tengker itu belum mereka bersihkan karena memmang belum produksi.

Pihak keluarga pabrik kecap mengharapkan masyarakat bijak dalam menyerap dan mengkonsumsi berita yang beredar, selain itu mereka siap didatangi warga, pelanggan konsumen bahkan mahasiswa yang kurang yakin dengan kehalalan, kebersihan dan keamanan kecap yang mereka produksi selama turun – temurun dan diolah secara tradisional dalam h memproduksi kecap lokal asli bangka yang sudah sangat dikenal masyarakat luas bahkan sampai luar Bangka Belitung.

BACA JUGA :  Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bangka Meminta SE Bupati No : 900/400/SE/BPPKAD-III/2021 Segera Dicabut dan Tunjangan Beban Kerja Di Sejumlah OPD Dihapus

” Jangan takut konsumsi kecap kita, dari kecil saya diajarkan papa, papa di ajarkan opa, kecap kita harus jaga mutu karena mutu itu nomer satu harus kita jaga, kami semua diajarkan keluarga seperti itu, kecap kita ini izin lengkap, halal, higienis kami harap kami bisa mendapatkan kembali kepercayaan itu”  harap Annisa.

Sudaryanto menambahkan jika dirinya dan keluarga O juga mengkonsumsi kecap yang diproduksi O. Bahkan menurutnya kecap tersebut adalah kecap yang bagus.

” Selain masyarakat, kami selaku keluarga juga mengkonsumsi kecap ini, ini kecap bagus, masyarakat, pelanggan, mahasiswa silahkan cek kesini gimana kita produksinya, semoga saja kepercayaan masyarakat dapat kembali kami dapat, selama ini tidak ada masalah, kami menganggap ini ujian dari yang maha kuasa” kata Sudaryanto mewakili O.

Pihak keluarga juga berharap adanya pendampingan dari seluruh instansi pemerintah yang selama ini telah membina, mengetahui dan mengeluarkan izin Industri Kecil Menengah ( IKM) yang mereka geluti selama puluhan tahun ini agar dapat memberikan klarifikasi dan jawaban ke seluruh pihak terutama pihak penegak hukum.

 

Hal ini dikarenakan produksi kecap mereka selama ini telah diketahui dan di pantau oleh seluruh dinas terkait mengenai kesehatan, proses produksi dan keamanan konsumsi bagi masyatakat sebelum diedarkan ke toko – toko.

” Ya ada 20 instansi yang mengeluarkan izin terhadap Industri kecil kami ini, kami harap hasil pantauan selama ini dapat di bantu kami menjelaskan kepada aparat penegak hukum, kami sangat berharap sekali kepada dinas – dinas” harap Sudaryanto.

 

(Ikrar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.