Di Palu dan Donggala  Harga Beras Sejuta Sekarung

Lokal Seremonial

Forumkeadilanbabel.com, Sulteng  — Korban gempa dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala mengungkapkan, kebutuhan paling mendesak yang dibutuhkan pengungsi adalah sembako, selimut, pakaian layak pakai, tenda, obat – obatan, makanan dan susu bayi, dan air bersih.

Nur (50), salah satu dari ratusan pengungsi di Pesisir Barat Kabupaten Donggala, khususnya di lapangan bola Desa Pantoloan mengungkapkan, para pengungsi sangat kesulitan mendapatkan barang kebutuhan pokok. Dikatakannya, harga beras dengan berat 50 kilo gram mencapai satu juta rupiah perkarung. Jika di kalkulasikan, harga beras mencapai Rp 20.000 per kilo gram.

“Disini beras sejuta sekarung yang 50 kilo, itupun susah dapat, karena toko belum banyak yang buka” ungkap Nur, didampingi suaminya, Arpa (52), Selasa (09/10/2018).

BACA JUGA :  Antisipasi Cluster Penyebaran Covid-19, Penerapan Prokes dan Capaian Vaksinasi, Syarat Penyelenggara Event

Kondisi serupa dirasakan pengungsi di SMPN 2 Sindue, Desa Lero Tatari, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggapa, disini ada 475 KK yang mengungsi. Diantaranya 175 balita usia dibawah tiga tahun, dan 149 orang lansia rata – rata umur 60 – 90 tahun.

Mirnawati dan Musdalifa, pengungsi di Posko Pengungsian SMPN 2 SINDUE mengungkapkan, kesulitan mendapatkan barang kebutuhan pokok sudah dialami sejak hari pertama usai gempa dan tsunami. Dikatakannya, harga beras dengan berat 50 kilo gram mencapai satu juta rupiah perkarung.

“Hari pertama sampai hari kelima itu sulit dapat barang untuk makan, harga beras itu sejuta sekarung, itu ndak ada yang jual. Baru sekarang ini harga beras agak murah, sekarung sudah bisa dapat sekitar Rp 700.000 – 800.000 / karung, harga telur Rp 100.000 / rak,” ungkap Mirnawati, Selasa malam.

BACA JUGA :  Begini Kata Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Mahendra Soal Teguran KASN Terhadap Kebijakan Gubernur Babel

Musdalifa mengungkapkan, sampai hari ini belum ada yang memberika trauma healing. Suplay bantuan sudah diterima baru TNI dan Pertamina dengan tim medis. Bantuan yang disalurkan oleh TNI berupa Mie Instan, dan beras satu liter per kepala keluarga.

“Kami disini sulit dapat sembako, selimut, tenda, obat – obatan, susu bayi, karena toko eceran belum banyak yang buka pak,” imbuhnya.

Selain kesulitan bahan pokok, pengungsi juga kesulitan air bersih. Pengungsi hanya mengandalkan air sungai Salubay dan sungai Lembana.

Sementara Hamid, salah satu koordinator pengungsi di Posko SMPN 2 SINDUE mengatakan, warga yang ditampung dan mengungsi disini rata – rata rumahnya rusak parah atau rata dengan tanah.

BACA JUGA :  Lagi, Soal Rekom KASN, Huzarni Rani Sebut Gubernur Babel Seperti Makan Buah Simalakama

“Rata – rata pengungsi disini rumahnya rusak berat, ada juga yang rata dengan tanah. Listrik saja baru dua malam ini agak normal,” jelasnya.

Tim relawan dari PWI dan SMSI Babel yang didampingi Sekretaris SMSI Sulteng, akan terus melakukan pemetaan dan pemantauan kondisi korban gempa dan tsunami di Pesisir Pantai Barat, khususnya di Kabupaten Donggala.

 

(Red/FkB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.