Peraktek Dugaan Kecurangan dan Kongkalikong Antara Mitra dengan Oknum PT Timah Dalam Penerimaan Biji Tiimah 

Hukum Lokal

 

Forumkeadilanbabel.com, Sungailiat – Niat baik dari pihak Perusahaan plat merah seperti PT Timah Tbk yang membuka kemitraan dengan masyarakat dengan cara membeli serta menampung biji timah dari setiap mitranya ternyata tidak berjalan mulus. Kemitraan Perusahaan PT Timah dengan masyarakat ternyata hanya  bisa di nikmati oleh para pengepul timah yang diduga melakukan praktek kecurangan dengan cara melakukan persekongkolan dengan oknum PT Timah itu sendiri.

Demikian diungkapkan salah satu mitra PT Timah yang kesehariannya melakukan pengiriman biji timah pada setiap pos penerimaan dan wasre PT Timah yang ada di beberapa Kabupaten.
“TIdak semua mitra PT  Timah yang mengirim biji timah di setiap pos penerimaan dan wasre yang tersebar di beberapa kabupaten itu bisa lolos dalam setiap kali pengiriman. Semua itu tergantung hasil lobi-lobi kolektor timah dengan oknum-oknum di PT Timah yang berperan dalam penerimaan biji timah itu sendiri,” ungkap sumber di Sungailiat yang mewanti wanti agar identitasnya tidak dibocorkan, Senin (8/10).

Misalnya saja lanjut dia, pengiriman pada wasre di kecamatam pemali, pos-pos penerimaan di setiap desa termasuk juga  wasre desa Cambai Kabupaten Bangka Tengah dan yang saat ini penampungan timah di Batu rusa.
“Semuanya harus melibatkan oknum-oknum yang bertugas di setiap pos maupun wasre itu sendiri dan bahkan dugaan kongkalikong antara oknum dari PT Timah itu sendiri yang menitipkan biji timah agar bisa lolos. Selain titipan biji timah oleh oknum PT Timah itu sendiri, upaya uang pelicinpun tidak sedikit yang di gelontorkan oleh mitra PT Timah itu sendiri agar proses penerimaan biji timah berjalan lancar,” ujar sumber.

Daftar harga yang dibayarkan PT Timah kepada mitranya
Lebih lanjut dikatakannya, bila setiap mitra PT Timah yang melakukan pengiriman biji timah pada tempat-tempat yang telah di tentukan tidak mengeluarkan uang pelicin atau hanya alakadarnya, makatidak menutup kemungkinan para mitra tersebut biji timahnya ditolak dan harus membawa pulang untuk diproses kembali.
“Tidak hanya sampai di situ, meskipun para mitra tersebut mengirim biji timah dengan kadar timah sn yang tinggi juga tidak mempengaruhi, misalnya timah dengan sn yang tinggi 500kg, sementara campurannya dengan kadar sn yang rendah kadar biru sisa hasil pengolahan(shp) 1000 kg belum tentu bisa lolos, akan tetapi bila melibatkan oknum PT Timah, meskipun kadar timahnya rendah dengan sn yang tinggi hanya 300 kg dan dicampur dengan kadar sn yang rendah (mineral ikutan berupa biru) sisa hasil pengolahan(shp) sebanyak1300 kg justru bisa lolos. Nah di situ lah pola permainan antara mitra PT Timah dengan oknum-oknum PT Timah,” sebutnya.

Sumber ini pun mencontohkan, bila mitra PT Timah itu melakukan pengiriman sebanyak 8 back (kantong timah) masing-masing back tersebut berisikan 1600 kg dan satu back untuk jatah oknum-oknum PT Timah dengan hasil tersebut mereka (oknum pt timah, red) akan berbagi. Sedangkan untuk mitranya masih tersisa 7 back.  Maka bisa dibayangkan bila berat satu back 1600 kg, misalnya lolos dengan hasil micnya 35 dengan harga jual Rp. 51,944 x 1600kg = Rp. 83.110.400 hasilnya ketahuan.
“Apa tidak ketagihan untukterus berkongkalikong antara mitra PT Timah dengan oknum oknum di PT Timah itu sendiri. Terima atau tidaknya memang harus demikian, bila tidak demikian siap-siap biji timahnya  ditolak atau prosesnya lama untuk bisa lolos.

Dikatakannya lagi, bila setiap kali pengiriman biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Nilai jutaan juga untuk biaya tip untuk masing-masing oknum, mulai dari keamanan hingga oknum PT Timah bagian penerimaan yang berpengaruh di dalamnya.
“Bila hal-hal seperti yang dimaksud tidak di laksanakan oleh para mitra timah yang melakukan pengiriman biji timah, maka meskipun bisa lolos akan tetapi melalui proses yang rumit, bahkan tidak jarang mitra-mitra tersebut merasa kapok dan sumpah serapah terhadap peraktek dugàan kecurangan dan kongkalikong yang melibatkan oknum PT Timah itu sendiri,” katanya.

Diakuinya untuk saat ini yang masih aktif dalam penerimaan biji timah dari mitranya hanya di penampungan unit laut  Batu rusa, namun justru semakin rumit dan bahkan lobi-lobi harus lebih kuat lagi dan parahnya uang pelicin harus lebih besar lagi.
“Untuk proses pemberian uang pelicin atau fie bisanya melalui janjian via telpon, janjian ketemu dimana bahkan fie tersebut juga terkadang diantarkan ke rumah masing-masing oknum tersebut,” sebutnya.

Oleh sebab itu dirinya selaku mitra timah yang selalu sudah lama menjalin kemitraan dengan PT Timah berharap agar oknum-oknum yang bekerja tidak sesuai SOP agar ditiindak.

“Bila perlu dipecat. Sebab oknum oknum seperti itu akan membuat perusahaan PT Timah alami kerugian yang besar,” tutup sumber seraya mengingatkan agar identitasnya tidak dibocorkan.

Sementara, salah satu karyawan PT Timah mengakui jika praktek kecurangan dan persekongkolan dalam pembelian dan penampungan biji timah tersebut bukan rahasia umum lagi di dalam perusahaan plat merah itu. Namun karena praktek tersebut sepertinya tersistem sehingga terus berjalan.

“Praktek kecurangan dan persekongkolan di bagian penerimaan dan penampungan biji timah itu sudah bukan rahasia umum lagi. Namun karena berbeda divisi jadi kami dak bisa ikut campur. Kami hanya kuatirkan PT Timah akan alami kerugian hingga trilyunan rupiah bila biji timah itu nantinya dilebur. Memang saat ini biji timah yang dibeli dari mitra itu masih ditampung belum dilebur, sehingga belum berdampak bagi PT Timah. Namun jika saat peleburan nanti dilakukan maka saat itulah akan terbongkar permainan dan kecurangan oknum oknum tersebut,” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, kabid humas PT Timah, Anggi Siahaan ketika dikonfirmasi via pesan WA, Senin (8/10) belum  bersedia memberikan tanggapannya.
(Red/FkB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.