Gery Pemilik SPDN Kampung Nelayan dua Membantah Terkait Pemberitaan Penyimpangan Pendistribusian BBM Bersubsidi

Hukum Lokal
Gery, pemilik SPDN kampung Nelayan dua Sungailiat

Forumkeadilanbabel.com, Sungailiat – Gery yang mengaku sebagai pemilik Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) di Kampung Nelayan dua Sungailiat membantah pemberitaan di forumkeadilanbabel.com yang menyebutkan banyak warga nelayan tidak mendapatkan minyak solar di SPDN kampung Nelayan dua. Minyak solar hanya dinikmati segelintir oknum warga kampung Nelayan dua saja.

Gery yang juga memperkenalkan dirinya sebagai gubernur Lira Babel sangat tidak setuju dengan pemberitaan tersebut.
“Dipemberitaan forumkeadilanbabel.com memuat pernyataan sumber yang menyebutkan banyak warga nelayan yang tidak mendapatkan minyak solar di sini. Tapi kenyataannya hari ini saksikan sendiri. Kita bagi bagikan minyak solar ke warga nelayan bahkan ibu ibu semua kita bagi. Memang ketentuannya harus pakai surat kepemilikan kapal dan surat keterangan akan berlayar. Namun untuk administrasi seperti itu terlalu bertele tele. Maka tidak kita berlakukan. Pokoknya warga nelayan yang mau beli minyak solar kita layani semua,” terang Gery kepada sejumlah media yang memang sebelumnya diundang untuk meliput pembagian minyak solar di SPDN kampung Nelayan dua, Sabtu (6/10).

Masih kata Gery, dalam pemberitaan di situ sumbernya menyebutkan jika minyak solar dari SPDN yang diakui miliknya itu diangkut pakai mobil pick up dan truk adalah tidak benar.
“Nara sumber di forumkeadilan itu sangat keliru dan sangat memihak. Solar yang dibeli ibu ibu itu terkadang dibawa ke perkasa untuk ambil biji timah. Anda bisa lihat di sana ada kapal ikan yang ada sakan di atasnya. Jadi bukan untuk nangkap ikan. Nah kapal kapal itu ada setor. Jadi ada upeti yang dak bisa saya sebut dalam hal ini. Dari 60 – 65 persen ibu ibu yang beli minyak di sini. Ketika minyak suaminya penuh mereka lempar ke situ (Perkasa, red). Kita tahu hal itu namun kita tetap bantu. Jadi jelasnya kita distribusikan bbm jenis solar ini sudah sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku,” terangnya panjang lebar.

SPDN milik Gery di kampung Nelayan dua Sungailiat

Justru menurutnya pengambilan upeti oleh kelompok tertentu terhadap aktifitas TI apung tersebut yang jumlahnya mencapai ratusan unit di perairan air kantung Sungailiat, itu yang harus diusut. Sebagai gubernur Lira Babel dirinya bersama stafnya mengaku merasa terpanggil untuk melaporkan hal tersebut ke Polda Kep. Babel.
“Saya selaku gubernur Lira Bangka Belitung, LSM terbesar di Indonesia akan melaporkan hal tersebut ke Polda Kep. Babel. Termasuk juga memproses tudingan larinya minyak dari SPDN kampung nelayan ini seperti yang diberitakan di forumkeadilan. Kita sangat sayangkan pemberitaan sepihak itu. Harusnya konfirmasi dulu dengan saya sebelum menurunkan berita seperti itu. Karena pemberitaan itu harus berimbang,” sesalnya.

Seperti dipemberitaan sebelumnya, meskipun Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat memiliki dua Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) dan satu Agen Premium Minyak Solar (APMS) yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan para nelayan akan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi namun faktanya sebagian besar para pencari ikan di laut ini justru semakin kesulitan mendapatkan bbm bersubsidi khususnya jenis solar.

Demikian disampaikan beberapa orang yang memang berprofesi sebagai nelayan. Diantaranya, Wan warga nelayan dua ini mengaku terpaksa tidak melaut saat ini lantaran tidak dapat solar. Warga kampung Nelayan 2 ini mengungkapkan jika dirinya sulit mendapatkan jatah solar di APMS atau pun di SPDN baik yang ada di kampung Nelayan 2  maupun di Pelabuhan Perikanan Nusantara.
“Sudah 3 hari tidak melaut. Tidak dapat solar. Sudah semua tempat pengisian solar kita datangi, bilangnya solar habis atau belum datang,” kata Wan saat di temui di pelabuhan, Selasa (2/10).

Tidak hanya Wan, sebelumnya Nas juga mengatakan hal serupa. Jika bbm bersubsidi jenis solar di APMS atau pun SPDN di Pelabuhan Nusantara Sungailiat maupun di kampung nelayan dua memang sulit didapatkan.
“Memang susah pak. Sekarang ini kita nelayan susah mendapatkan BBM jenis solar,” kata Nas saat menunggu BBM bersubsidi jenis solar di salah satu SPDN wilayah PPN Sungailiat, Senin (1/10).

Meskipun ada tiga SPDN di PPN Sungailiat menurut Nas hal itu tidak serta merta bbm jenis solar mudah didapat.
“Jujur ku sampaikan kalau SPDN yang ini (SPDN paling ujung yang dekat dengan kantor syahbandar, red) masih berani saya jamin pendistribusiannya memang khusus untuk nelayan. Sebab kalau solarnya datang biasanya satu minggu sekali maka siapa saja yang mau beli solar harus memperlihatkan surat kepemilikan kapal dan surat keterangan akan berangkat berlayar. Ini yang saya saksikan di SPDN ini,” kata Nas.

Namun kalau APMS yang berada di sebelah kiri pintu masuk pelabuhan dan SPDN yang berada di dekat pelelangan ikan itu, menurutnya bikin sakit kepala.
“Siapa yang tidak sakit kepala dan emosi kalau pas ada solar datang. Kita mau beli solar untuk melaut tapi kita tak kunjung dilayani. Sebab petugas noselnya lebih mengutamakan pembeli yang justru kita ragukan untuk dipakai melaut. Sebab orang orang tersebut setiap kali ada pembagian minyak solar selalu banyak jatahnya hingga puluhan jerigen yang diangkut pakai mobil pick up bahkan diankut pakai truck untuk di bawa keluar pelabuhan. Kalau mau buktinya silahkan dilihat sendiri bagaimana proses pendistribusian minyak solar di APMS. Hal serupa juga terjadi di SPDN milik koperasi tapi yang berwenang membagi jatah solar di situ adalah Akiong. Memang lah Akiong ini banyak perahu kapalnya tapi dia juga punya beberapa  alat berat berupa PC untuk kegiatan nambang,” beber Nas panjang lebar.

Ditanya soal SPDN di kampung Nelayan dua yang kabarnya hanya dimanfaatkan segelintir oknum warga nelayan dua. Nas mengungkapkan jika pendistribusian SPDN tersebut memang sudah keluar dari prosedurnya.
“Memang benar info itu. Kami orang nelayan bertempat di kampung Nelayan  sudah lama tidak ngambil jatah minyak solar lagi di situ. Habis ada beberapa orang yang memang sudah langgan dapat jatah hingga lebih dari satu drum. Bahkan ada yang pakai mobil pick up dan truck ngangkut drum guna ngisi minyak solar di situ. Ini kata teman di sekitar SPDN di situ pembonngkaran minyak solar sering dilakukan dini hari. Coba dimonitor nanti, maka akan nampak pemandangan yang luar biasa, soal pendistribusian minyak solar di SPDN tersebut,” sebutnya.

Sementara itu, petugas nosel APMS yang dituding lebih memprioritaskan pelanggan yang bukan untuk keperluan melaut, Arsad membantah jika dirinya tidak mengutamakan para nelayan dalam pendistribusian bbm jenis solar.
“Memang ada nelayan yang datang ke sini. Kita perhatikan surat perahunya sudah mati kami tetap bagi namun kalau minggu depan dia datang dengan surat yang masih belum diurus maka tidak kami kasih lagi,” katanya.

Disinggung soal adanya beberapa oknum anggota yang memenopoli pendistribusian bbm jenis solar untuk keperluan aktifitas tambangnya. Arsad berkilah jika info tersebut tidak benar.
“Itu info ndak benar. Kita di sini khusus untuk keperluan melaut. Tapi kalau SPDN di bawah sana memang banyak yang dijual ke bukan nelayan tapi ke orang TI,” kelitnya.

Diketahui saat ini bisnis bbm bersubsidi jenis solar sangat digandrungi oleh sebagian masyarakat. Keuntungannya sangat fantastis. Bayangkan saja jika  oknum si A dapat jatah dalam satu hari 1 drum maka keuntungan yang didapat bisa mencapai Rp.500 ribu bahkan bisa lebih dari nilai itu. Lalu kalau si oknum tersebut dapat jatah hingga 5 drum bahkan hingga 10 drum berapa besar keuntungan yang didapat dari bbm subsidi yang diperuntukan bagi masyarakat yang tergolong kurang mampu ?
Hingga berita ini diturunkan, wartawan media ini masih dalam  upaya konfirmasi ke pihak pemilik APMS kampung Nelayan 2 dan pihak pertamina terkait sanksi bagi APMS ataupun SPDN yang terbukti melakukan persekongkolan dengan seseorang untuk mendistribusikan BBM bersubsidi jenis solar yang tidak sesuai peruntukannya.
(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.