Lagi, Kolong Kwarsa Diduga Masuk Kawasan Hutan Lindung Teluk Limau Dihajar TI Rajuk

Hukum Lokal
Kondisi kolong Kuarsa diduga masuk kawasan Hutan Lindung Teluk Limau Kecamatan Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat, dihajar puluhan unit TI Rajuk, Minggu (23/9)

Forumkeadilanbabel.com, Parit Tiga – Kolong kwarsa yang diduga masuk dalam kawasan Hutan Lindung ( HL ) Desa Teluk Limau Kecamatan Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat ( Babar ) Provinsi Bangka Belitung ( Babel ) saat ini alami kerusakan akibat penambangan ilegal berupa TI rajuk.

Aktifitas penambangan dengan sistem TI rajuk di kawasan tersebut terus merajalela lantaran belum pernah tersentuh hukum. Puluhan unit TI rajuk tersebut tak henti hentinya memporak porandakan isi kolong Kwarsa yang notabenenya masuk dalam kawasan hutan lindung, Minggu (23/9/2018).

Selain aktifitas tambang yang merusak kawasan HL, persoalan membeli dan menampung pasir timah yang diduga tidak memiliki izin usaha pertambangan (IUP) itu sepertinya juga belum tersentuh oleh aparat kepolisian setempat bahkan terkesan dibiarkan.

BACA JUGA :  Gubernur Pastikan Tempat Tidur Pasien Covid-19 RSUD Ir. Soekarno Ditambah

Menurut pengakuan dari penambang kepada wartawan jika hasil timah yang mereka dapat dijual kepada kolektor pasir timah berinisial Ttg di Desa Sekar Biru Kecamatan Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat.

“Pasir timah ini kami jual ke Ttg (inisial)  selaku kolektor di Desa Sekar Biru” ungkap Yan selaku penambang belum lama ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh menyebutkan jika hasil penambangan biji timah yang dibeli oleh Ttg ini tidak hanya dari TI Rajuk Kolong Kwarsa saja akan tetapi pasir timah dari Desa Jebul Laut juga termasuk TK 8 ikut dibeli.

Menanggapi informasi tersebut, Kapolsek Jebus, AKP Andi Purwanto berjanji akan mengecek kebenaran info tersebut.
“Terimakasih pak, besok akan kita cek ke lokasi,” jawab Andi ketika diminta tanggapannya terkait maraknya aktifitas penambangan ilegal sistem TI rajuk di kolong Kwarsa yang diduga Kawasan hutan lindung via WA, Minggu (23/9/2018) malam.

Terpisah, kadis kehutanan provinsi kepulauan Babel, Marwan melalui KPH Bangka Barat, Melyadi juga berjanji akan mengecek lokasi penambangan di kolong kwarsa tersebut.
” Terimakasih infonya, besok kami akan cek ke lokasi apakah memang betul masuk kawasan hutan lindung (HL, red). Jika memang betul masuk HL  maka aktifitas tersebut harus ditindak tegas. Tidak boleh dibiarkan,” janji Melyadi via sambungan, Minggu (23/9) malam.

Hingga berita ini diturunkan, forumkeadilanbabel.com masih dalam upaya konfirmasi ke pihak terkait lainnya.
(Red/FkB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.