Kemas: Lebih Baik Ditembak Mati Daripada Korupsi Cetak Sawah

Hukum Lokal

Forumkeadilanbabel.com, Sungailiat – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka, Kemas Arfani Rahman menegaskan bahwa dirinya lebih baik ditembak mati, dari pada dituding korupsi. Hal ini dikatakan KemasĀ  terkait, dirinya ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Babel dalam kasus cetak sawah di Kabupaten Bangka.

“Saya siap mati. Saya kecewa dengan sistem sekarang ini. Makanya saya mengundurkan diri dari PNS. Pelaksanaan cetak sawah itu tanggung jawab bersama dan bukan tanggung jawab saya sendiri,” ujar Kemas Arfani Rahman, saat jumpa pers, Minggu (26/08) di rumah kediamannya Sungailiat.

Dijelaskan Kemas Arfani Rahman, sebelumnya tim dari kejati mendatangi kantornya dan menggeledah dokumen. Yang Dicari tim dari kejati, dokumen asli terkait dengan pencairan dana cetak sawah. Sedangkan menurut Kemas, pihaknya tidak memegang dokumen aslinya, karena pihaknya tidak terkait dengan pembayaran. Dan dokumen aslinya yang memegang adalah pihak Propinsi,
“Saya sudah berupaya menjelaskan, namun sepertinya pihak tim tidak bisa menerima. Saya tidak terkait pembayaran apapun dan semua pembayaran dilakukan oleh PPK, bendahara propinsi. Dan yang ada proyek cetak sawah itu ada di beberapa kabupaten di Babel. Masak hanya Kabupaten Bangka saja yang diperiksa. Yang lebih mengejutkan saya ditetapkan tersangka perdana,”ujarnya.

Ditambahkan Kemas, bahwa dirinya sebagai kepala dinas merasa sudah melaksanakan tugas dengan benar dan tidak merasa memberi keuntungan pihak lain. Apalagi melakukan korupsi, itu tidak terbersit di dalam hati,
“Saya sudah didampingi pengacara dan sudah mengambil langkah guna menghadapi persoalan ini. Saya juga akan konsultasi ke Direktorat TNI Pusat, karena cetak sawah ini bekerja sama dengan TNI. Cetak sawah ini, pelaksanaannya tanggung jawab bersama dan bukan tanggung jawab saya sendiri,”tuturnya.

Kemas juga mengatakan berkeyakinan sudah menjalankan tugas negara dengan benar. Sebagai kepala dinas pertanian mempunyai komitmen menjalankan perintah negara. Dan program cetak sawah merupakan program nasional, yaitu nawa cita yang diprogramkan pak Jokowi. Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dan program cetak sawah bekerja sama dengan TNI.
“Sebagai pejabat pembuat komitmen saya sudah bekerja sesuai aturan. Menyiapkan lahan, sosialisasi, melakukan pengawasan. Pekerjaan ini dilakukan secara nasional, tanpa tender. saya benar-benar terkejut dan tidak menyangka ditetapkan tersangka perdana,” tutupnya. (heru sudrajat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.