Game Zone Menjamur, Resahkan Warga Kota Pangkalpinang

Hukum Lokal

 

Forumkeadilanbabel.com, Pangkalpinang – Menjamurnya bisnis usaha ” game zone ”  atau permainan bola ketangkasan di wilayah hukum kota Pangkalpinang kembali menjadi sorotan dan menuai protes dari masyarakat kota Pangkalpinang, pasalnya bisnis usaha game zone yang berkedok permainan mesin ketangkasan itu seringkali dikunjungi anak-anak sekolah bahkan anak-anak dibawah umur juga ikut walaupun hanya sekadar iseng atau melihat-lihat saja.

Sebut saja ibu “wati” warga jalan kampung Melintang Pangkalpinang yang sempat meradang saat diwawancara sejumlah awak media yang melakukan pantauan dibeberapa ruko yang dijadikan usaha “Game Zone”.

” Anak saya selepas pulang sekolah ganti baju langsung hilang, eh  tahunya setelah ibu cari ia bemain game zone, kami sangat  menyesalkan mengapa “game zone”  mudah sekali pemerintah kota Pangkalpinang mengeluarkan perizinannya ” ujar Wati saat diwawancara mengenakan kerudung biru, Jum’at (17/08/2018).

Lain halnya, dengan pengakuan seorang warga keturunan Tionghoa sebut saja “Acan” yang juga tidak setuju keberadaan usaha bisnis Game Zone marak berada dilingkungan warga etnis Tionghoa.

” Kami sebenarnya keberatan jika bisnis usaha game zone atau permainan ketangkasan itu banyak menjalankan usahanya dilingkungan warga etnis Tionghoa, kami tidak mau saudara kami yang muslim nantinya beranggapan kami menyetujui usaha bisnis tersebut walaupun tidak dipungkiri game zone itu berbau “judi” kata Acan yang tidak mau menyebutkan nama sebenarnya kepada Jurnalis Babel.

Pantauan awak media dibeberapa tempat Game Zone yang ada wilayah hukum kota Pangkalpinang, ada yang berlokasi tidak jauh dari tempat pendidikan sekolah SD dan tempat ibadah Mesjid disekitar kawasan pemakaman kherkop jalan Sekolah.

Bahkan Game Zone “Vivo” jalan Belimbing V yang sempat tutup karena terkait penyalahgunaan narkoba kini beroperasi kembali, padahal pihak Pemkot Pangkalpinang sempat berjanji tidak akan menerbitkan kembali perizinan.

Selain itu pantauan awak media hari ini bahkan terlihat seorang ibu rumah tangga yang asik bermain game zone, ironinya menggenakan jilbab berwarna merah.

Dan ternyata tempat usaha untuk “Game zone atau permainan bola ketangkasan” tidak memerlukan bangun yang luas atau terlihat wah/megah cukup menyewakan ruko yang sekedar saja bisa jalan.

Dengan mudah nya surat perizinan berupa surat TDUP (Tanda Daftar Usaha Pariwisata)  dikeluarkan oleh pemerintah kota Pangkalpinang, tanpa melihat atau kajian-kajian layak atau tidaknya bangunan tersebut dijadikan tempat usaha yang mendukung pariwisata, dan selain itu tanpa melihat dampak sosial atau kenyamanan warga disekitarnya.

Hal ini sempat diceritakan oleh
seorang ibu rumah tangga yang disapa ‘Ayin” bahwa anaknya sempat membawa sejumlah uang setelah main game zone disalah satu didaerah Kampung Bintang, walaupun ia tidak menyebutkan itu bisnis judi atau bukan.

” Ku dak berani wo nyebut tu tempat judi ape bukan ? Ngeri kite takut salah umong pacak-pacak kite yang salah, suruh polisi kek urang Pemda  yang nyelidik e ” Kate Ayin warga kampung Bintang.

Namun demikian ibu rumah tangga itu, sangat keberatan usaha game zone banyak beraktivitas di daerah warga keturunan etnis Tionghoa, seolah-olah warganya setuju usaha permainan bola ketangkasan diadakan di daerah mereka.

Walaupun belum dipastikan usaha game zone itu “permainan judi yang terselubung atau berkedok bola ketangkasan”  namun setidaknya dapat disimpulkan diminta Pemkot Pangkalpinang tidak mudah serta merta mengeluarkan perizinannya tanpa memikirkan dampak sosial dan keuntungan dari yang didapat dari sektor pariwisatanya, jangan sampai harinya kota Pangkalpinang menjadi “Kota Seribu Game Zone”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.