NELAYAN RESAH AKAN KEBERADAAN KAPAL KERUK DI PERAIRAN LAUT SADAI 

Hukum Lokal

 

Forumkeadilanbabel.com, Sadai — Nelayan Sadai Bangka Selatan dari berbagai kelompok nelayan bagan, jaring maupun kelompok nelayan lainnya mengeluhkan keberadaan kapal keruk di perairan Sadai.
Pasalnya keberadaan kapal keruk tersebut dituding tidak melakukan pengerukan sesuai yang diharapkan masyarakat nelayan. Sebaliknya justru melakukan pengerukan  alur  di lokasi yang sudah dalam.
Sehingga saat materialnya diangkat ke permukan menimbulkan dampak tidak baik di sekitar lokasi yang  dikeruk, banyak terumbu karang yang hancur dan air laut menjadi keruh serta menimbulkan kerugian bagi nelayan terutama nelayan bagan.

Demikian disampaikan sejumlah perwakilan nelayan Sadai pada pertemuan dengan awak media, di salah satu rumah ketua Kelompok Nelayan Jaring Desa Sadai, Asiong yang juga dihadiri ketua Kelompok Nelayan Bagan, Nurdin, ketua Adat desa Sadai, H. Kamarudin dan para tokoh Adat serta LP2TRI, Minggu (29/7/2018).
“Kapal keruk ini sudah lama sekali beroprasi, mengeruk pasir di perairan laut Sadai sudah 5 (lima) tahun lebih tidak nampak hasil dan manfaatnya, yang ada masyarakat hanya dibohongi. Awalnya masyarakat meghendaki beting-beting yang dangkal itu yang dikeruk, nyatanya mana? Justru terjadi pendangkalan soalnya yang dikeruk bukan pada bagian yang harusnya dikeruk,” ungkap Asiong yang diamini warga nelayan lainnya.

Hal senada juga dikatakan Nurdin, keberadaan kapal keruk itu tidak ada manfaatnya sama sekali bagi masyarakat nelayan Sadai justru malah merugikan.
“Awalnya kami setuju adanya pendalamsn alur  tapi ternyata kapal keruk tersebut tidak melakukan apa yang kami harapakan, harusnya daerah yang dangkal yang mesti dikeruk tenyata lokasi yang dalam yang dikeruk, ada apaini, sudah lima tahun tapi belum ada dampak apapun untuk kami justru kami dirugikan. Bagan kami terancam hancur apabila terjadi kelalaian. Para pemilik perusahaan kapal itu putus jangkar mengahantam bagan-bagan kami dan banyak lagi bahaya lainya yang akan muncul.”  ujar Nurdin dengan nada kesal.

Dikatakannya, usaha bagan tancap ini saat ini sudah sangat sulit didapatkan.
“Bayangkan kalau jadi terbangun bagan itu sudah pasti banyak dana yang kami keluarkan dan itu tidak sedikit uangnya. Kami khawatir sekali, kapal-kapal tongkang yang memuat pasir itu kalau lewat debur ombaknya besar dan kapal tongkang itu digandeng dengan Tagboat. Lah kalau kapalnya lepas, bisa bisa menghantam bagan kami. Ini pernah kejadian tiga tahun lalu, gandengan kapal tagboat itu putus dan menghantam bagan saudara kami hingga menimbulkan korban jiwa dan sampai detik ini belum juga ditemukan dimana jasadnya.” ungkap Nurdin mengingat kejadian 3 tahun yang lalu.

Kamarudin menambahkan, jika saat ini juga para nelayan Sadai sudah sangat menginginkan kapal keruk itu hengksng dari wilayah perairan laut Sadai kalau memang sudah tidak bisa lagi menjalankan pekerjaannya dengan baik.
“Waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat seharusnya sudah sangat nampak hasil alur yang dikeruk, kok alur yang katanya dikeruk ternyata mengeruk tempt yang lain. Justru semakin parah. Kami atas nama nelayan masyarakat Sadai dan sekitarnya bila memerlukan dukungan kembali untuk perpanjangan izin, kami secara tegas akan menolak perpanjangam tersebut.” tegas Kamarudin.

Terkait keluhan dan keresahan masyarakat Sadai dan sekitarnya atas aktivitas kapal keruk tersebut, forumkeadilanbabel.com  mencoba mengkonfirmasi ke pihak Kades Tukak Sadai, via WA messenger, Rabu (1/8/2018) namun hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapannya termasuk klarifikasi adanya info yang menyebutkan tiap Desa mendapat jatah fee Rp. 3 juta perbulan dari pihak perusahaan kapal keruk tersebut.
(Ibrahim/FkB)
BACA JUGA :  Tegas!! Thomas Jusman : Saya Ketua Kadin Babel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.