Kasatlantas Polres Bangka Barat Bantu Keluarga Gofarudin

Hukum Lokal
Kasat Lantas Polres Bangka Barat Akp JP. Tampubolon, SH. MH

Forumkeadilanbababel.com, Bangka Barat, — Kasatlantas Polres Bangka Barat,.AKP John Pieter Tampubolon, berjanji membantu keluarga Gofarudin, warga Desa Teluk Limau Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat yang mengalami musibah meninggalnya istri yang bernama Zubaidah akibat tertabrak sepeda motor. Pihak Satlantas Polres Bangka Barat akan menerbitkan laporan polisi (LP) guna kepentingan pencairan asuransi Jasa Raharja.

Belajar dari pengalaman kasus ini, kasat menegaskan bagi setiap pengguna kendaraan baik roda dua maupun roda empat supaya mengenakan helm dan melengkapi STNK. Selain itu jika ada kejadian lakalantas John berharap keluarga korban atau masyarakat segera melapor ke pihak satlantas secepat mungkin.
“Masalah menolak (dibuatkan LP), saya sudah katakan pada keluarga Almarhumah saat itu pada saat mereka kesini untuk pencairan Jasa Raharja. Kami tidak bisa LP kejadian itu (lakalantas) tanggal 25 Juni. Almarhumah dikubur sekitar tanggal 27 atau 28 Juni, sementara dia (keluarga korban) baru melapor tanggal 3 Juli. Jadi persyaratan nerbitkan LP lakalantas itu kita harus ke TKP untuk menerbitkan atau membenarkan kejadian itu benar. Baru kemudian kita mengumpulkan barang bukti, saksi kemudian dituangkan sketsa TKP dan apabila ada korban atau meninggal dunia baru diklaim asuransi Jasa Raharja nya,” ujar John Pieter dikonfirmasi Forumkeadilanbabel.com, di ruang kerjanya, (10/6), terkait pemberitaan di media online ini, kemarin, seraya menerangkan laporan polisi lakalantas dikeluarkan mengikuti prosedur yang berlaku.

Sementara Almarhumah kata perwira ini, pada saat kejadian tidak menggunakan helm dan tidak membawa STNK.
“Kalau kita ikut aturan yang ada kita tidak cairkan, tapi karena kemanusiaan tetap kita cairkan. Tapi jangan seolah-olah duit itu yang berharga,” ujar kasat sehingga dijadikan motivasi dalam kasus ini.
Kasat menjelaskan, dalam hal berkendaraan tidak selamanya yang meninggal dunia jadi korban, bisa saja menurutnya yang meninggal jadi tersangka.
“Aturan yang sebenarnya dalam undang-undang lalulintas , penyeberang itu harus mengutamakan yang lurus atau jalan utama. Ibu itu waktu kejadian menggunakan motor,”tambah kasat. Oleh karena itu kata kasat pihaknya tidak menggunakan istilah pelaku hanya pengendara lawan melihat dari hasil sketsa TKP yang dibuat.

Seperti dilansir di forumkeadilanbabel.com sebelumnya. Gofarudin, warga Desa Teluk Limau, Kecamatan Parit Tiga, Bangka Barat terpaksa harus menelan kekecewaan mendalam, lantaran laporan darinya atas kejadian lakalantas yang menyebabkan istrinya Zubaidah meninggal dunia di tolak pihak Satlantas Polres Bangka Barat.

Gofarudin ketika ditemui di kediamannya, Sabtu (7/7/2018) mengatakan kejadian lakalantas yang mengakibatkan istrinya meninggal dunia tersebut terjadi pada 25 juni lalu.

“Kejadiannya akhir juni lalu di depan rumah, saat itu istri saya hendak belanja ke warung, begiti keluar dari pekarangan rumah kami,  Tiba-tiba langsung ditabrak oleh pelaku hingga terpental. Melihat itu kami segera membawa istri saya ke RS Bakti Timah, tapi kemudian di rujuk ke Rs Propinsi di Air Anyir, namun sayang nyawa istri saya tidak bisa diselamatkan,” tutur Gofarudin sembari memeluk ketiga anaknya.

Gofarudin menambahkan, saat itu pihak keluarga pelaku dan keluarganya sudah bertemu untuk melakukan upaya perdamaian, namun menurut Gofarudin, pihak keluarga pelaku yang juga warga Desa Teluk Limau terkesan seperti separuh hati. Hingga membuat Gofarudin ingin melanjutkan masalah ini ke pihak berwajib.

Namun sayangnya, ketika pihak keluarga mendatangai kantor Satlantas Polres Babar, laporan mereka ditolak pihak kepolisian dari Satlantas Polres Babar.

“Kami bertemu dengan Kasatlantas, namun laporan kami ditolak dengan alasan sudah lewat masanya. Kami orang bodoh Pak, tak mengerti hukum, pelaku memang masih dibawah umur Pak, tapi apakah nyawa istri saya tidak ada harganya sama sekali? Kami minta keadilan Pak, pelaku sampai sekarang masih berkeliaran mengendarai motor keliling kampung. Kami paham Pak pelaku masih dibawah umur, tapi masa tidak ada proses sama sekali? ujar Sanika, salah seorang keluarga korban.

Penolakan pihak Lantas Polres Bangka Barat terhadap laporan pihak keluarga korban sontak saja mendapat kritikan dari LSM Gerakan Barisan Komitmen Konstitusi (Gebrakk) Sriwijaya Babel.

Ibrahim selaku sekretaris LSM Gebrakk Sriwijaya Babel, sangat menyayangkan sikap Kasatlantas Polres Bangka Barat yang tegah tegahnya menolak LP dari pihak keluarga korban.

“Motto kepolisian adalah melidungi dan mengayomi masyarakat. Maka tidak sepantasnya Kasatlantas menolak LP (laporan polisi, red) dari pihak keluarga korban kecelakaan lalu lintas yang bertujuan melaporkan laka lantas yang merenggut nyawa korban hanya karena lewat 9 hari dari kejadian,” ujarnya ketika dimintai tanggapan terkait kabar ditolaknya laporan Gofarudin oleh Kasatlantas Polres Babar, Minggu (8/7/2018).Menurutnya, laka lantas hingga mengakibatkan korban meninggal dunia maka ancamannya maksimal 6 tahun maka laporan daluarsanya adalah 12 tahun.

“Sepengetahuan saya untuk kasus laka lantas yang mengakibatkan korban meninggal dunia itu daluarsa LP nya hingga 12 tahun selagi barang buktinya tidak berubah sama sekali baik milik korban maupun tersangka  serta ada saksi di sekitar TKP yang masih ingat dan siap memberi kesaksian terkait laka lantas tersebut dan kepolisian berkewajiban untuk menerima laporan dari pihak korban atau keluarga korban untuk kemudian ditindak lanjuti,” ungkapnya.

Disebutkannya dalam UU Lalu Lintas pasal 310 yang mengatur masalah kecelakaan lalu lintas:

Kecelakaan berakibat rusak benda – ancaman penjara maksimal 6 bulan; luka ringan – penjara maksimal 1 tahun; luka berat – penjara maksimal 5 tahun; meninggal dunia – penjara maksimal 6 tahun.

Jadi kalau kecelakaan lalu lintas hanya rusak ringan hingga luka ringan yang diancam pidana 6 bulan s/d 1 tahun, maka daluarsanya adalah enam tahun. Sedangkan kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia maka daluarsanya laporan ke pihak kepolisian adalah 12 tahun.

Hingga berita ini diturunkan, pihal Polres Bangka Barat belum memberikan keterangan resminya. Kabag Ops, Kompol Pebriandih Haloho yang dihubungi forumkeadilanbabel.com via WhatsApp (WA) messenger hanya mengatakan akan menanyakan hal tersebut ke Kasatlantas. “Nanti saya tanya Kasatlantas ya,” tulisnya. (Rudy/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.